Ketika suatu perusahaan akan mengadakan perubahan maka faktor kredibilitas dan kepemimpinan menjadi hal utama. Kredibilitas merupakan hal paling potensial kalau perusahaan mau unggul dalam persaingan pasar. Kedudukannya sebagai sumber enerji positif dari dalam seorang pemimpin. Di dalamnya ada beragam nilai seperti kepercayaan tinggi, kepemimpinan mumpuni, karakter pribadi, kompetensi, kepedulian, dan komitmen tinggi. Semakin tinggi nilai unsur-unsur tersebut semakin tinggi kualitas kredibilitas seorang pemimpin. Sekaligus juga akan berefek pada meningkatnya kredibilitas perusahaan. Di sisi lain kredibilitas tidak berperan untuk memulihkan sesuatu agar kembali normal sepenuhnya atau mengembalikan kerugian potensial, tetapi hanya dapat mengurangi ketidak-pastian dan ancaman saja. Untuk itulah kepemimpinan yang kredibel dalam manajemen perubahan sangat diperlukan sekali.
Kepemimpinan yang kredibel dapat dilihat dari kepercayaan yang diterima seorang pemimpin. Kepercayaan timbul karena pemimpin selalu memberikan keteladanan perilaku yang baik kepada subordinasi dan pihak lain. Hal demikian dapat dilihat dari unsur karakter. Dalam kesehariannya, sebagai seorang pemimpin, dia bersikap jujur, adil, dan rendah hati. Dia selalu mampu menjadi penengah yang handal ketika terjadi suatu konflik di dalam perusahaan. Sementara, ditinjau dari sisi kompetensi berarti dia seseorang yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap-perilaku positif, inovatif, dan pengalaman yang panjang. Katakanlah juga yang memiliki visi maju. Kompetensi ini utamanya dibutuhkan untuk memperkecil terjadinya resiko kegagalan setiap perubahan yang mungkin timbul. Selain itu pemimpin yang memiliki komitmen dicirikan oleh kemampuannya untuk memutuskan siapa saja yang akan dilibatkan dan mengajak mereka untuk mendukung pelaksanaan perubahan. Begitu pula ciri pemimpin yang peduli adalah dia yang memiliki minat tinggi dan mampu mengkoordinasi siapapun yang berminat dan peduli untuk mensukseskan perubahan.
Untuk mencapai keberhasilan perubahan maka seorang pemimpin akan memanfaatkan daya enerjinya melalui optimalisasi keseimbangan, stabilitas, dan kekuatan atas kekuasaannya. Satu saja unsur dan atau keseimbangan memiliki titik lemah maka akan membatasi kapasitas seorang pemimpin dalam mengelola perubahan secara optimum. Patut disadari bahwa kapasitas seorang pemimpin relatif terbatas. Tidak ada istilah superman yang mampu bekerja sendiri. Siapapun tahu seorang pemimpin tidak bakal mampu menghapus semua resiko kegagalan, tidak dapat menjanjikan perusahaan tidak bakal rugi, dan tidak dapat mengurangi sepenuhnya kondisi perusahaan yang kurang sehat. Karena itulah seorang pemimpin harus menghindari kegiatan yang sebatas coba-coba dan obral janji bahwa dia sanggup mengatasi semua persoalan perusahaan. Untuk itu kemampuan berkoordinasi dengan siapapun juga menjadi sangat strategis. Dia harus mampu menjadi konduktor suatu orkestra perubahan yang mengagumkan.
Juli 9, 2008 at 9:41 pm
Saya melihat kredibilitas pemimpin di tiap lini dan dimensi politik semakin tidak jelas saja.Maksud saya lebih mementingkan urusan pribadi dan kelompoknya. Bayangkan ketika saya melihat dan juga dilihat jutaan warga via media tv ada pertunjukkan menarik tetapi menyedihkan dimana ketua umum dan sekjend salah satu partai(kebetulan keduanya sedang berseteru) saling berebut untuk mendapatkan amplop nomor urut peserta pemilu 2009 di kantor KPU.Dimana jiwa keteladan dan sikap dewasa dari sang pemimpin itu? Semoga rakyat yang semakin cerdas tidak meniru.
Juli 9, 2008 at 10:21 pm
saya juga ikut prihatin mbak nur….bisa dibayangkan kalau kepentingan individu dan kelompoknya menjadi panglima….bagaimana nasib para prajuritnya-rakyatnya???
Juli 10, 2008 at 11:27 pm
Apakah ciri-ciri kredibilitas seorang pemimpin seperti diuraikan bapak berlaku juga untuk organisasi non-bisnis?
Juli 11, 2008 at 11:35 am
bisa berlaku bung rusli…yang membedakan adalah dalam hal gaya kepemimpinannya saja…..
Juli 14, 2008 at 11:41 pm
Kepemimpinan yang memiliki kredibilitas tinggi sudah merupakan hal langka di negeri ini. Coba kita tengok dari empat presiden yang pernah ada semua terjungkal karena kredibilitasnya ternyata rapuh.Saya tidak tahu bagaimana di perusahaan khususnya di bumn?
Juli 15, 2008 at 10:55 am
ya mbak kur……kalau menggunakan posisi peringkat daya saing bisnis kita yang masih jauh di bawah negara tetangga….berarti ada yang salah….diantaranya bisa jadi dalam hal kepemimpinannya…..dan juga manajemen dan sdmnya…..
Juli 19, 2008 at 10:27 am
Sore Pak Sjafri, saya bekerja di sebuah konsultan manajemen yang fokus ke bidang SDM. Saya lulusan IPB (2006) dari Fahutan, sudah hampir 2 tahun saya bekerja dan menangani beberapa organisasi/perusahaan. Berbicara kepemimpinan adalah mengenai kompetensi (sifat, perilaku, dll) dan semua orang dalam organisasi harus memilikinya. Namun dari beberapa pengalaman saya, ketika memasuki sebuah perubahan dalam konteks merger dan akuisisi, kepemimpinan akhirnya menempel kepada seorang Pimpinan. Anggota organisasi yang seharusnya menjadi agen perubahan akhirnya hanya menjadi pengikut dan terus menerus mendekati pimpinan agar mendapatkan posisi atau keuntungan dari perubahan. Akhirnya perubahan seringkali menciptakan conflict of interest. Oleh karena itu seringkali perusahaan mendatangkan pihak netral (dalam hal ini konsultan) sebagai pembawa perubahan. Hal ini sangat baik bagi konsultan karena mendatangkan proyek, namun bagi perusahaan harus menanggung biaya cukup tinggi, oleh karena itu sebelum perubahan dilakukan harus dipastikan apakah Kepemimpinan dalam organisasi sudah siap. Selain itu juga dalam perubahan, Teamwork selalu menjadi kunci utama setelah Kepemimpinan karena keputusan dalam organisasi adalah kolektif.
Juli 19, 2008 at 12:22 pm
terimakasih bung fadli atas uraiannya yang sangat bermanfaat….tampaknya perusahaan itu belum menjadi suatu learning organization dimana semua individu termasuk pihak manajemennya selalu tak pernah berhenti belajar….dan membangun tim kerja tangguh…..salam