Oleh: sjafri mangkuprawira | Juni 23, 2008

PERUBAHAN MENTAL: TERSULIT

 

Tak ada yang tak berubah di dunia ini. Apakah itu perubahan secara alami ataukah direncanakan. Sering disebut sebagai hukum perubahan. Jadi apa dan siapapun dia baik itu individu, tim kerja, organisasi sampai bangsa harus siap dengan perubahan. Perubahan tak bisa ditolak karena kalau menghindarinya sama saja dengan bunuh diri. Siapapun akan semakin tertinggal. Kalau terjadi seperti itu tinggal masalah waktu saja. Lalu apapun dan siapapun secara gradual bakal kolaps dan akhirnya ”wafat”. Apalagi di dunia bisnis yang sangat kental dengan persaingan. Yang tak jarang terjadi sikut-sikutan dengan mengabaikan etika bisnis.

Jenis perubahan organisasi beragam mulai dari yang sederhana sampai yang bersifat kompleks. Yang sederhana contohnya perubahan tata kerja, tata letak ruangan, fasilitas kerja, dan kegiatan  rutin lainnya. Sementara yang kompleks berupa perubahan visi, misi, dan tujuan serta strategi pengembangan bisnis ke depan. Untuk setiap perubahan maka dapat dikelompokkan lagi menjadi perubahan fisik dan non-fisik. Dari sekian perubahan non-fisik maka yang tampil paling pokok namun sulit adalah perubahan mental. Jenis perubahan ini antara lain diindikasikan dalam bentuk perubahan cara pandang, sikap, sistem nilai, dan perilaku.  Kalau dalam istilah budaya organisasi dimensi non-fisik itu digolongkan sebagai unsur-unsur lunak. Sementara unsur-unsur keras berupa struktur dan strategi yang relatif lebih mudah diubah ketimbang unsur-unsur lunak

Dalam prakteknya contoh perubahan mental yang tidak semudah perubahan dalam unsur-unsur fisik antara lain hal-hal negatif tentang kedisiplinan, sikap efisien, rasa malu kalau bersalah, kerja keras, kerja cerdas, kebiasaan, keterbukaan, rasa percaya diri, keegoan, dan bakat. Karena begitu beragamnya jenis perilaku mental maka pendekatan masalahnya pun akan beragam. Mulai dari pendekatan masal sampai individual dan sangat bergantung pada derajad kemudahannya. Pendekatan masal disini antara lain dalam bentuk perubahan sosial dalam diri karyawan. Mereka dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan tim yang sudah mapan. Disitu diharapkan terjadinya interaksi sosial yang aktif dengan para rekan kerjanya yang mentalnya relatif sudah stabil. Disitu diharapkan terjadi nya proses berbagi nilai-nilai mental positif. Selain itu pelatihan dan pengembangan mental pun dinilai sangat bermanfaat.

Sementara itu pendekatan individual sangat menolong melalui bimbingan dan konseling oleh para akhli. Pendekatan ini lebih ditekankan dalam konteks membangun kepercayaan, keegoan, dan keterbukaan diri terhadap orang lain. Termasuk di dalamnya keterbukaan untuk mau menerima perubahan positif. Seperti yang sempat saya utarakan dalam artikel terdahulu, pendekatan ini membutuhkan persyaratan utama yakni klien atau karyawan harus memiliki kemauan untuk berubah. Karena itu pada tahap awal bagaimana pendekatan yang diterapkan harus mampu membangun kemauan tersebut.

Disinilah para pembimbing harus menanamkan pemahaman tentang makna kehidupan dalam arti luas. Klien perlu terus diajak berdiskusi dan dilibatkan dalam praktek kerjasama tim di unit kerja. Kemudian untuk mengembangkan rasa percaya diri mereka dilibatkan dalam membahas suatu perencanaan yang dimulai dari skala dan lingkup sederhana. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kadar perasaan bahwa klien sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Sebagai derivatnya adalah akan terjadi peningkatan mental dalam rasa percaya,  dan keterbukaan diri. Memang proses ini akan makan waktu relatif lama dan biaya. Namun sekali perusahaan mengatakan karyawan adalah aset perusahaan maka konsekuensinya harus melakukan investasi perubahan mental agar kinerja perusahaan meningkat. Dengan satu keyakinan tentunya bahwa tak ada yang tak mungkin untuk merubah mental individu.

 

 


Tanggapan

  1. Ya… begitulah prof…. yang paling sulit adalah menanamkan budaya belajar pada karyawan2 ataupun subordinat2. Budaya belajar adalah bagaimana budaya agar para karyawan terus mengembangkan dirinya dengan kesadarannya sendiri. Kebanyakan karyawan (walaupun tak semua) biasanya berhenti “membudayakan” belajar pada saat mereka lulus dari lembaga pendidikan. Tahunya mereka hanya bekerja seperti robot dan menerima gaji. Padahal pengembangan diri sangat penting apakah itu menyangkut hard skill ataupun soft skill. Itulah yang terkadang sulit diubah……

  2. Pak,saya menduga mental seseorang yang sulit berubah sebagai akibat gagalnya proses sosialisasi di dalam keluarga dan gagalnya penerapan pola pendidikan di sekolah.

  3. berati karyawan boleh mengatakan kata tridak pada pemimpin nya pak

  4. bung haris…bisa saja demikian (say no) asalkan dengan argumen yang tepat…… misalnya kalau sang pemimpin mengajak karyawan untuk berbuat hal yang negatif atau tidak etis-tak bermoral……bahkan kita wajib mengatakan tidak….dan mengingatkannya…..

  5. benar mas yariNK…..ini akibat pola sosialisasi (informal education) dalam keluarga dan pola pendidikan formal yang terlalu berorientasi mengajar ketimbang mendidik….pola ajar pun jauh lebih kental pada orientasi untuk mengejar nilai intelektual dan serba instan ketimbang nilai kepribadian (emosional,spiritual,dan sosial)……akibatnya kalau tidak segera dilakukan reformasi pendidikan nasional yang taatasas maka bangsa kita bakal mengalami krisis keterbatasan dalam spirit juang berkepanjangan…..

  6. benar bung rusli…saya sependapat …lihat tanggapan buat mas yariNK….thanks…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori