Oleh: sjafri mangkuprawira | Mei 11, 2008

PURNABAKTI:SELESAI BERBAKTIKAH?

 

Kamis kemarin merupakan puncak acara purnabakti saya. Disiapkan sejak November tahun lalu oleh delapan mantan bimbingan (S1 dan S2) saya yang menjadi dosen di IPB.  Mereka sudah menjadi ilmuwan tangguh. Enam orang  bergelar PhD (lima orang di luar negeri dan seorang di IPB) dan dua orang master yang sedang studi PhD. Dibantu oleh enam orang bimbingan saya yang baru lulus strata satu. Mereka merayakan sebagai tanda apresiasi kepada gurunya, katanya. Padahal  sejak awal saya sudah menolak karena saya adalah orang biasa dan tetap ingin sebagai orang biasa ketika pensiun. Namun tetap saja mereka bersikukuh merayakannya.

Sebenarnya apa makna dari purnabakti itu? Apakah seseorang yang sudah selesai sebagai PNS lalu selesai pula tugas-tugasnya terutama kepada masyarakat? Dari buku purnabakti berjudul Pak Sjafri:Guru, Ayah, dan Sahabat Kami (setebal 211 halaman, IPB Press), disitu sebagian besar kolega, sahabat, mahasiswa, dan karyawan menuliskan bahwa purnabakti dari saya bukanlah berarti segalanya berakhir. Pernyataan Purnabakti hanyalah bentuk formal saja. Masih ada medan dan kegiatan lain. Bahkan ada yang mengatakan purnabakti hanya ditandai oleh berkurangnya gaji dan tunjangan saja. Sementara panggilan bakti tetap masih menanti sang pensiunan. Demikian mereka berpendapat dan berharap. Bagi saya walau sudah pensiun insya allah saya akan tetap mengajar, membimbing, meneliti, dan menulis termasuk berblog ria. Ibadah tidak pernah mengenal kata henti. Mengapa? Karena ibadah itu adalah panggilan jiwa dan  indah.

Acara yang diadakan di kampus Manajemen Bisnis IPB itu dihadiri oleh sekitar 250 orang termasuk di dalamnya rektor, wakil rektor, dekan, dan pimpinan lembaga, pimpinan dan anggota senat akademik, pimpinan dan anggota Dewan Guru Besar, tiga orang mantan menteri, dan para sahabat (kolega dan karyawan) serta  mahasiswa bimbingan. Acara diisi dengan diskusi membahas tiga buah pemikiran saya yakni Pertanian, Kemiskinan, dan Kecerdasan Bangsa; Pengaruh Perubahan Dunia terhadap Manajemen Mutu SDM; dan Pengembangan kurikulum ilmu manajemen. Sebagai pembahas adalah Prof.Dr.Payaman Simanjuntak, Prof.Dr.Bomer Pasaribu, dan Ir Nurul Bariah MBA. Diskusi sangat menarik di tengah-tengah krisis tingginya harga bahan bakar minyak, tingginya harga pangan pokok, dan kelangkaan pangan. Berdasarkan tema diskusi maka peningkatan mutu SDM menjadi keharusan kalau bangsa kita mau unggul di segala bidang kehidupan khususnya di sektor pertanian pada era global ini.

Dalam kesempatan itu lewat media tayangan disajikan kilas balik ”bakti” saya selama 39 tahun di IPB dan luar IPB. Selain itu diluncurkan buku terbaru saya berjudul Horison:Bisnis, Manajemen, dan SDM (tebal 312 halaman;IPB Press). Sebagian besar isi buku merupakan kumpulan artikel yang  dimuat pada blog Rona Wajah yang saya asuh. Ini terbukti bahwa blog itu punya manfaat ganda; yakni sebagai syiar kebajikan dalam bentuk informasi ilmiah lewat dunia maya dan juga artikelnya bisa dibukukan. Kalau sudah menjadi buku berarti ia merupakan dokumen yang akan eksis sampai kapan pun. Para hadirin termasuk mahasiswa memperoleh buku itu plus buku purnabakti secara gratis.

Kembali ke makna acara purnabakti. Kesan pribadi saya, acara purnabakti merupakan suatu kilas balik yang harus disyukuri oleh saya. Di sisi lain sanjungan-sanjungan yang diungkapkan secara tertulis dalam buku purnabakti dan orasi dalam acara tersebut merupakan bagian dari ujian hidup saya. Saya tidak harus tenggelam dengan segala sanjungan. Saya tidak boleh menjadi angkuh karena sanjungan. Sanjungan seharusnya mengingatkan dan mendorong saya selalu berkontribusi nyata buat siapa pun, kapan pun dan dimana pun dengan segala kerendahan hati.

 


Tanggapan

  1. Semoga makin berkiprah yah, walau sudah purnabakti.
    semoga apa yg telah bapak berikan untuk IPB dan indonesia bisa memcerahkan kita smuea, termasuk isi blognya :)

  2. Wah, masa hanya yang hadir yang dapat buku, Pak? Saya juga mau dong, Pak…:-)

  3. ya bung ali….dosen dep manajemen dapat buku itu…..

  4. insya allah bung arul….terimakasih

  5. Pak Sjafri,
    Ada yang menggelitik dalam acara kemarin tentang wahana teori adalah ilmu, dan implementasi adalah ilmu yang lain lagi. Para pembahas menekankan kepada aspek konseptual dan menyinggung tentang implementasi secara ala kadarnya, seakan-akan implementasi adalah robot otomatis. Sama halnya dengan upaya mencari 23 orang player sepak bola dari 230 juta orang Indonesia, rasa-rasanya prestasi PSSI masih di belakang pentas dunia. Why dan so what gitu loh?

    Konversi policy menjadi strategi dan kemudian menjadi implementasi adalah persis seperti teori hambatan yang dikemukan oleh Ohm, I = V x R, dimana adanya hambatan secara pasti akan mengurangi arus dan memperkecil tegangan sehingga proses konversi akan semakin menyusut dengan amplitido yang semakin membesar.

    Melakukan eksekusi strategi tanpa penyimpangan adalah syarat sukses dalam kehidupan manajemen (apapun), dan sayangnya proses konversi ini harus melewati tahapan-tahapan: learning, perubahan model mental, pembuatan keputusan, dan berujung pada kinerja. Eksekutor yang bermasalah dalam proses pembelajaran akan menurunkan efektivitas strategi. Mereka yang sukses belajarpun belum tentu berubah model mentalnya. Mereka yang sudah berubah model mentalnya dan setuju mengeksekusi strategipun kadang-kadang mengambil keputusan yang kurang tepat. Dan bisa dibayangkan kinerja seperti apa yang muncul di ujung terowongan konversi strategi menjadi implementasi itu?

    Wajar jika mencari 1 orang pemain sepakbola dari 10 juta orang tetap nggak bisa ketemu, maka bisa dibayangkan betapa ganasnya virus KKN menginfeksi bangsa Indonesia yang terpuruk dalam kemiskinan, sehingga tidak relevan lagi rasanya membahas issue canggih seperti manajemen mutu dalam konteks masyarakat yang “sakit” dan “setengah sekarat.”

    Selamat menikmati freedom Pak Sjafri, saya yakin Bapak akan semakin produktif menulis dan memberikan kemaslahatan kepada lingkungan sekitar kita.

    Wassalam.

  6. Assalamualaikum.
    Ada pertanyaan yang selalu ingin saya tanyakan kpd bpk, Apakah yang menjadi pencapaian tertinggi dalam hidup bpk?

  7. benar bung iyung…….hemat saya betapa tiap individu manusia,dalam bahasa sosiologi, dan bahkan ekonomi, tidak bisa dianggap homogen……tetapi ujungnya secara universal keberhasilan suatu program apapun sangat bergantung pada mutu manusia…..unsur eksternal ceteris paribus…….btw saya akan jalani dan nikmati hidup dan kehidupan as ever……..trims ulasannya yang bagus……salam

  8. waalaikum salam….bung yudi….insya allah terkabulkannya sebagai insan penyiar dan pelaku pesan rahmatan lil alamin dengan ridha allah swt………..

  9. Selamat siang Pak Sjafri…
    Membaca artikel bapak tentang purnabhakti bapak saya jadi tergerak untuk menanyakan pertanyaan yang agak ‘nyeleneh’ mungkin ya pak…Kalau beberapa waktu lalu di kelas pasca sarjana bapak pernah berkata kalau dokter itu kalau masak pasti steril… banget tapi pada kenyataan sama saja dengan orang biasa, saya juga punya pertanyaan nih Pak… ‘ apa sih Pak rasanya jadi Prof ?’ he…he… Dulu saya pernah berpikir apa ya rasanya jadi sarjana? setelah sarjana saya berpikir apa ya enaknya jadi dokter penuh? terus mikir lagi apa ya enaknya jadi S-2 yang sekarang masih dalam proses (semoga lancar…) Tapi saya berpikir Pak, memang boleh-boleh saja ya pak ada masa Purnabakti, tetapi kembali lagi ke pribadi masing-masing.Ada yang sudah purnabakti tapi masih mau berbuat untuk masyarakat banyak, seperti Bapak dengan cara mengajar, menulis via blog dan saya percaya masih banyak yang bapak lakukan. Tapi ada juga ya Pak yang masih muda, masih produktif tapi hati, mental dan sikapnya malah sudah purnabakti duluan ha…ha….
    Saya salut sama Bapak, kalau bukan kita yang cinta bangsa sendiri siapa lagi ya Pak yang mau mencintai dan membangun masyarakatnya. Selamat berkarya lebih lagi ya Pak… Dan jadi panutan buat kita yang muda2 terutama mencontoh semangat dan cara Bapak memotivasi diri. Kiranya Tuhan selalu melindungi dan menjaga Bapak sekeluarga.Amin.

  10. mbak mulan…..rasanya menjadi guru besar dilihat dari sisi manusiawi biasa-biasa saja….saya tak merasa jauh lebih gede ketimbang yang bukan…….sementara dari sisi amanahlah yang jauh lebih berat….karena jabatan akademik mengharuskan seorang akademisi apalagi guru besar harus menjaga dan menegakkan integritas akademiknya….kejujuran dan prestasi ilmiahnya perlu dibangun buat kepentingan masyarakat dan keilmuan…..karena itu walau sudah pensiun, saya harus tetap belajar….dan tetap belajar….dan sedikit menyumbangkan ilmu saya dalam bentuk perkuliahan,pembimbingan, penelitian, penyajian makalah seminar, dan penulisan buku ilmiah dan ilmiah populer…..semoga mbak mulan selalu sukses dalam meniti karir…..


Beri tanggapan

Your response:

Kategori