Siapapun di antara kita pernah marah. Bisa jadi ada seseorang yang bereaksi begitu berlebihan ketika emosinya tersinggung dan lalu marah besar. Yang lainnya mungkin mengekspresikan marahnya dengan mengumpat-umpat tak berhenti. Dalam prosesnya ada orang marah yang mudah segera mengendalikan dirinya. Namun ada juga yang sukar. Lalu  apakah marah perlu dikelola? Seperti halnya pada stres? Bukankan perilaku marah  itu buruk? Apa untungnya?

 

Marah dapat dikatakan sebagai reaksi kuat atas sesuatu yang tidak menyenangkan dan mengganggu pada seseorang. Ragamnya mulai dari kejengkelan yang ringan sampai angkara murka dan mengamuk. Ketika itu terjadi maka detak debar jantung semakin cepat, tekanan darah dan aliran adrenalin juga meningkat. Kalau sudah begini bisa-bisa perubahan psikologis akan menyebabkan timbulnya reaksi agresiv dan perlakuan kasar dari sang pemarah. Akibat bagi dirinya akan berbentuk emosi dan enerji sosial yang semakin rusak. Lebih jauh interaksi sosial positif bakal terganggu. Akan timbul fenomena amarah yang berantai ke orang lain. Itulah sebabnya mengapa marah sebaiknya dikelola menjadi hal yang konstruktif. Tahap awal adalah memahami mengapa amarah bisa terjadi pada seseorang.

 

Walau bersifat alami dan normal namun marah tidak timbul dengan sendirinya. Ia merupakan respon dari seseorang ketika mendapat ancaman, hal yang membahayakan, kekerasan verbal, perlakukan tidak adil, kebohongan dan manipulasi oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul karena batas-batas emosi yang kita miliki telah terganggu atau terancam. Secara internal, marah bisa terjadi ketika menghadapi masalah-masalah pribadi, mengingat peristiwa yang sangat mengganggu pikiran, kekecewaan pada situasi lingkungan, kurang percaya diri, dsb. Sementara secara eksternal, marah bisa timbul karena menghadapi kepadatan lalulintas, mendapat ancaman, hak-hak pribadinya diperlakukan tidak adil,dsb. Apakah  dengan demikian amarah selalu dipandang sebagai emosi yang negatif?

 

Marah sebenarnya dapat berguna. Karena itu marah konon jangan dipendam sebab akan merusak emosi. Jadi lepas saja asalkan dilakukan dengan wajar dan segera bisa dikendalikan. Di sisi lain marah bisa memotivasi seseorang untuk memecahkan masalah tertentu yang sebelumnya tersembunyi. Mengapa? Karena setelah itu yang bersangkutan segera melakukan evaluasi diri. Marah disini memberi sinyal mana  yang dirasakan sebagai sesuatu yang benar dan mana yang salah. Konflik-konflik secara bertahap bisa diatasi dengan emosi yang tenang.

 

Apa saja cara mengelola marah secara konstruktif? Yang pertama adalah  menghadapi setiap gangguan yang dapat menimbulkan marah dengan tenang. Ketika itu terjadi segera berupaya meminimumkan kontak dengan orang yang memicu marah. Kalau perlu minta penjelasan dengan baik-baik. Dan tentunya kita sendiri harus siap menanggapinya. Selain itu sebagai pimpinan, kita boleh-boleh saja berucap kepada para subordinasi untuk mengungkapkan kekecewaan dan bahkan marah kalau mereka tidak bekerja dengan baik. Tentunya setelah berulang kali diingatkan. Sebaliknya kalau tiba-tiba marah dan sadar itu karena kesalahan sang bos,ya dia harus memiliki jiwa ksatria untuk minta maaf pada sub-ordinasi.

 

Hal lain yang sangat penting dalam mengelola marah adalah menempatkan penyebab amarah secara proporsional. Misalnya tidak usah timbul marah kalau ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita. Hadapilah perbedaan itu dengan penguatan alasan-alasan kita yang lebih masuk akal dan dapat diterima oleh lawan. Kalau perlu kita berempati dengan orang tersebut. Bukankah perbedaan itu rahmah dan berkah? Sebaliknya kalau ada ancaman serius (lunak atau keras) yang mengancam pribadi tidak ada salahnya marah. Namun yang terkendali, tanpa harus dengan mengancam balik. Kontra produktif jadinya. Kemudian secara fisik mengelola marah dapat dilakukan dengan menghindari obyek marah. Dianjurkan menarik nafas panjang sambil berdoa, melakukan perenungan diri dan meditasi. Silakan terus berolahraga ringan untuk mengurangi tensi yang sedang tinggi. Dan juga mendengarkan musik kesukaan pribadi. Jadi intinya marah jangan dipelihara. Tetapi celakanya, ada yang menjadikan marah sebagai karakter pribadi yang permanen. Atau keranjingan berbuat marah. Kalau ada yang  seperti itu maka orang itu pantas diberi gelar MBA (Management by Anger).

About these ads