Manajer sering mendengar ungkapan-ungkapan populer keseharian seperti; “belajarlah dari pengalaman”, “bodoh anda makanya belajar yang benar dong”, “sudah banyak belajar mengapa tingkah laku anda masih belum dewasa juga?”, “bagaimana sih anda ini…tidak mampu mempraktekannya.. cuma belajar teori melulu sih”, “buat apa belajar lagi..otak udah mentok nih”. Pertanyaan itu menggambarkan, makna belajar dapat diungkap dalam sudut pandang berbeda.dan apa gunanya?

Ketika era global berlangsung maka tidak mungkin organisasi bisnis menghindari dari adanya turbulensi (sosial,ekonomi,teknologi,politik). Karena itu setiap individu perusahaan harus selalu siap untuk meningkatkan kepekaannya. Dengan demikian mereka akan selalu siap untuk melakukan perubahan-perubahan strategis. Untuk itu maka dibutuhkan proses pembelajaran secara terencana.

Lalu apa yang disebut dengan belajar? Belajar adalah kegiatan pribadi seseorang dalam menggunakan potensi pikiran dan nuraninya baik terstruktur maupun tidak terstruktur untuk memperoleh pengetahuan, membangun sikap dan memiliki ketrampilan tertentu. Untuk mencapai hal demikian digunakan beragam asumsi yang  meliputi:

 1.   Semua orang pada semua golongan usia memiliki potensi untuk belajar,namun dalam prosesnya, keberhasilan antarindividu akan beragam; ada yang cepat dan ada yang lambat bergantung pada motivasi dan cara yang digunakannya,

2.   Tiap individu mengalami proses perubahan dimana situasi belajar yang baru  sangat mungkin menimbulkan stres dan kebingungan atau tetapi di pihak lain bahkan ada yang menyenangkan.

Berdasarkan asumsi itu maka pendekatan praktis yang diterapkan antara lain adalah:

(1).     Di ruang kelas, instruktur memfasilitasi proses belajar dengan menggabungkan pengalaman peserta belajar, pengamatan lainnya, dan gagasan dan perasaan pibadi,

(2).      Kedalaman proses belajar jangka panjang  bergantung seberapa jauh peserta belajar berupaya menganalisis, mengklarifikasi atau mengartikulasi pengalaman mereka kepada pihak lain seperti keluarga, kelompok kerja dan sosial,

(3).      Program pendidikan dan pelatihan boleh jadi hanya menyediakan satu langkah  kemajuan individual tertentu dalam memperoleh perilaku baru, sementara yang lain mungkin lebih dari satu langkah,

(4).      Kegiatan belajar akan berakibat perbaikan individual ketika peserta belajar sebagai peserta aktif dalam proses pendidikan dan pelatihan. Dalam prakteknya kini dikenal sebagai students centered learning. Pihak khalayak belajar berperan aktif sementara instruktur lebih menjadi fasilitator. Kemudian pendekatan lainnya adalah dengan cara keterlibatan peserta khalak belajar dalam mengatasi kasus-kasus bisnis.

             Organisasi bisnis yang disebut modern adalah organisasi yang menempatkan proses pembelajaran menjadi strategi utama dalam pengembangan sumberdaya manusia.Tiada hari tanpa belajar walaupun hanya lewat pengalaman aksi saja. Itulah motonya. Bergantung pada lingkupnya, hampir pada setiap proses pembuatan keputusan bisnis melibatkan staf atau karyawannya.