Oleh: sjafri mangkuprawira | Januari 27, 2008

Why Women TALK and Men WALK?

Ketika saya sedang berada di ruang tunggu bandara Adisutjipto Yogyakarta, Jumat minggu lalu, saya membeli buku berjudul seperti di atas dari salah satu toko buku. Buku yang dikarang Patricia Love and Steven Stosny (2007), menguraikan dua hal pokok tentang hubungan lelaki dan perempuan. Hal yang pertama adalah mengapa begitu sulitnya memperbaiki hubungan, dan kedua bagaimana dalam suasana rasa takut dan malu bisa menciptakan rasa sayang lewat kata-kata.Uraian mendetil dari buku itu diungkapkan dalam 14 subtopik. Intinya bagaimana menjaga hubungan baik tanpa harus mendiskusikannya. Saya jadi penasaran, apakah pendekatan itu benar? Lalu  saya mencoba mensarikan salah satu uraian penulis bersub-judul “It’s Not About Communication”.

Sub-judul tersebut diawali dari pertanyaan penulis (pembicara) kepada pengunjung dalam kesempatan di suatu lokakarya. Pertanyaannya adalah bagaimana sikap lelaki (pasangannya) bicara tentang masalah hubungan. Sebagian besar kaum perempuan bilang hampir sangat jarang terjadi karena lelaki tak terampil berkomunikasi. Kalau diajak berkomunikasi, lelaki tidak jarang suka marah, defensif, atau tidak sabar. Dia tidak saja hanya kurang berminat tetapi malah menghentikan pembicaraan tentang hubungan. Katanya, para lelaki merasa tahu tentang sesuatu sementara kebanyakan perempuan tidak.

Bisa jadi suatu  ketika kaum perempuan merasa kecewa dan ingin merasa lebih baik. Karena itu mereka ingin mengadu tentang kondisi hubungan itu kepada lelaki Sebaliknya kaum lelaki tidak menghendakinya karena pembicaraan tak akan membuat mereka lebih baik.Dalam kenyataannya justru pembicaraan akan menjadikan situasi yang lebih buruk. Jadi apakah kaum perempuan mendesak kaum lelaki untuk bicara atau tidak, mereka berdua akhirnya akan kecewa.

Jadi inti persoalannya adalah  kaum perempuan ingin selalu berbagi perasaannya seperti kesedihan atau kekecewaan hubungan dengan lelaki. Komunikasi sudah menjadi kebutuhan bagi perempuan. Namun kaum lelaki menghindarinya. Mengapa? Karena lelaki bakal merasa malu dan tidak ingin dilecehkan oleh kaum perempuan kalau hubungan yang terjadi kurang harmonis. Karena itu kaum lelaki tidak mau berbuka perasaan dengan perempuan. Cenderung menghindarinya  dan lebih bersikap tertutup.

Gambaran di atas tentunya tidak mewakili sikap kaum lelaki pada umumnya. Apalagi mencerminkan kekakuan hubungan kaum isteri dengan suami. Cukup banyak suami bersedia dan terampil untuk berkomunikasi dengan isterinya. Begitu juga pihak isteri. Istilah populernya nyambung. Konon keterbukaan berkomunikasi merupakan bagian dari aspek mempererat hubungan yang penuh pengertian dan kemesraan.   


Tanggapan

  1. Mmmmmmh…

    Tapi kenapa ya orang pacaran itu kalau ngobrol lamaaaaaaaaaa banget. Sepertinya seharian ngobrol juga ga bosen-bosen….Sebabnya apa prof? :D (*pura-pura ga tahu ah…. *)

  2. pacaran kan masa penjajagan. segalanya serba manis dan gresss. Tapi kalau sudah sampai pada titik komitmen biasanya “tenggang rasa” jadi hilang. apalagi kalau sudah jadi isteri. Disini sudah bermain pola relasi yang lain. Secara kultur dan agama, sang laki-laki merasa dia sang pemimpin dan sang perempuan pengikut atau mitra setara (jika aspek pendidikan dan kemumpunian ekonomi sudah setara). Jadi tentu saja disini mulai terjadi “silent communication” atau “shadow communication”. yang penting-penting saja yang dikomunikasikan. soal curhat hati ya bisa sama orang lain (apalagi jika yang diajak ngobrol ya cuma buat ngobrol; tidak ada beban komitmen). ini bisa dijelaskan dari sudut teori difusi-inovasi, dimana orang yang sudah mengadopsi ada kemungkinan akan berbalik hati. Apalagi jika ada sesuatu yang lebih menggereget. Karena itu katanya dalam “komunikasi keluarga” mengapa banyak perempuan lebih sabar menjadi good listener dibanding arguing. Ya itu tadi supaya sang kawan berkomunikasi jangan risih karena takut malu (sperti kata Prof). Dan keluarga aman, tidak perlu pakai siaga segala. Tetapi hati-hati juga, dalam proses shadow and or silent commonication ada strategi lain yaitu “tarik-ulur”. Jika tidak hati-hati bisa kebablasan. Karena itulah mengapa banyak pasangan tidak lagi mampu berkomunikasi efektif tapi tetap bertahan karena menerapkan prinsip “rumah keong”. uh… uh.. yang penting komunikasilah. Dan dalam komunikasi pasti ada listener dan ada speaker. Kan biasanya juga gantian (walau dalam konteks shadow and silen com; melalui body languange communication…. wah… wah jadi panjang euy

  3. wah mr math…mengingatkan saya tempo doeloe nih…..ya ketika pacar masih belum jadi milik kita secara formal (pernikahan)biasanya kalau berkomunikasi hati-hati banget plus rayuan mautnya…maklum agar hubungan semakin hangat dan mesra….sampai-sampai ada cerita “kuno”,kalau sang pacar terantuk batu saja..dengan gesitnya segera sang jaka mendekapnya en bilang “hati-hati sayaaang”…..tapi kalau sudah “jadi” lain lagi…kalau terantuk pada batu yang sama…maka bukan membantunya tetapi malah si dia akan bilang “kemana sih tuh mata….hati-hati dooong”….blablabla….

  4. ya ms or mr AA (?)…..efektifitas komunikasi sangat bergantung pada unsur-unsur karakter pelakunya,media,isi pesan,simbol-simbol, dan kebisingan…..nah saya berpendapat judul artikel itu menekankan kurangnya pemahaman dari pelaku (komunikan dan komunikator) plus ada kebisingan psikologis…..saya teringat ada cerita lama tapi masih lucu yakni ketika suami-isteri sedang perang dingin,suami akan ke luar kota pada jam delapan pagi….walau sedang silent lalu dia minta sang isteri membangunkannya jam lima untuk bisa segera ke bandara…isi pesannya secara tertulis….lalu tidak mau kalah sang isteri pada jam lima mengirim pesan tertulis pula pada sang suami yang isinya…..mas bangun sekarang sudah jam lima…..lalu apa yang terjadi…sudah bisa ditebak…yaitu gagalnya sang suami pergi karena terlambat bangun…..semua gara-gara gengsi keegoan….

  5. Yang komentar no. 3 ceritanya lucu… :D

    Iya, saya juga sering denger. Katanya kalau lagi pacaran, bila pacar kesandung batu sedikit saja, dengan sigap pacarnya bilang “hati-hati sayaaaaang,” sambil disayang-sayang. Sampai batunya dimarahin segala… kakakakakak… :D

    Tapi, pas sudah jadi suami istri, kalau istri kesandung, malah dimarahin. Kakakakakak… :D

    Memang bila berkomunikasi dengan pacar, enak sekali. Kayak ga ada bosennya…

    Andai sudah jadi suami istri bisa berkomunikasi layaknya pacaran… wah indah sepertinya… :D

  6. bung zero; yang jelas derajad mutu komunikasi akan berfluktuasi dari waktu ke waktu apalagi antara suami dan isteri….namun seiring usia yang semakin tua…komunikasi kedua insan itu semakin mesra….dalam arti mereka sudah semakin saling mengenal dan memahami dirinya dan partnernya masing-masing….kalau tidak, lalu kemesraan akan menurun…dan pada gilirannya timbul ketidak-harmonisan….sampai akhirnya berpisah….

  7. To Math, I think its your personal experience :)

    Prof, somebody is falling in love likely…

    Math, jangan timpuk saya ya :p

    Ini juga pengalaman dari bergaul dengan teman-teman. Kebetulan dari dulu teman saya kebanyakan pria, mulai dari TK sampai di lingkungan pekerjaan. Herannya dengan hubungan tanpa komitmen semua komunikasi mengalir lancar. Ketika suatu ketika saya punya teman dekat saya merasa ada hambatan ketika ingin “curhat” (apa mungkin sudah bosan dicurhati melulu ya?)saya jadi belajar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dan mendorong ia untuk lebih banyak bicara supaya mengetahui keinginannya dengan benar (positifnya jadi belajar menekan ego).

    Hal lainnya, hampir semua teman pria saya mengaku kalau mereka sulit berkomunikasi pada orang yang mereka sukai/cintai, lidah mendadak kelu, bicara jadi tidak karuan, keringat dingin keluar jika didekat si dia. Kenapa ya Prof?

  8. heem mbak yoga….kok itu semua bergantung pada potensi dan nurani termasuk pengalaman hidup lelaki ya….dalam pergaulan di dalam dan keluarga….kalau di luar keluarga termasuk orang yang ku-per,merasa sangat asing kalau di tengah-tengah wanita….sementar unsur lain mungkin ada kaitannya dengan latar belakang kehidupannya di keluarga….suasana yang terlalu kaku,otoriter,kurangnya demokrasi berpendapat,hubungan yang kurang dekat dengan sang ibu dan saudara perempuan, kurangnya penjelasan dari orangtua tentang hubungan lelaki dan wanita,etc…..salam

  9. Terima kasih Prof :)

  10. sami-sami mbak yoga….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori