Gary Hamel (2007; The Future of Management; Harvard Business School Press,USA) beberapa tahun lalu telah mengadakan studi tentang sejarah inovasi manajemen. Studi dilakukan terhadap lebih dari 100 terobosan manajemen selama dua abad terakhir. Tidak dapat dielakan hal pokok dalam pelaksanaan manajemen sering mengarah pada pergeseran signifikan dalam posisi persaingan, dan sering menghasilkan keunggulan abadi pada perusahaan-perusahaan pionir. Diambil contoh, keberhasilan perusahaan-perusahaan seperti General Electric, DuPont,Toyota, and Visa sebagai pemimpin bisnis gobal. Keunggulannya terletak pada produk-produk hebat, penerapan karakter kedisiplinan, dan pemimpin yang berpandangan jauh ke depan. Itulah yang disebut sebagai inovasi manajemen. Beberapa dimensi penting yang diterapkan dalam model inovasi manajemen sehingga perusahaan kelas dunia mampu meraih keunggulan global adalah dalam hal pendekatan pengelolaan berbasis sains, pengalokasian kapital, kebijakan yang arif kepada setiap karyawan, dan membangun konsorsium global.
General Electric (GE) merupakan contoh perusahaan yang menerapkan pengelolaan bisnis berbasis sains. Pada awal 1900’an GE telah menyempurnakan temuan-temuan invensi dari Thomas Edison yang terkenal itu dengan mengembangkan laboratorium riset industri. Keberhasilan GE karena diterapkannya disiplin manajemen berbasis proses penemuan ilmiah yang rumit. Ditegaskan bahwa laboratorium ini telah mampu menghasilkan temuan-temuan kecil setiap 10 hari dan terobosan-terobosan besar setiap enam bulan. Ini bukanlah bualan percuma. Lebih dari setengah abad pada abad ke-20,GE menghasilkan paten terbanyak ketimbang perusahaan-perusahaan lainnya.
Sementara itu perusahaan DuPont pada tahun 1903, telah berperan dalam memolopori pengembangan teknik capital-budgeting dalam mengkalkulasi keuntungan dari investasi. Beberapa tahun kemudian, perusahaan juga mengembangkan cara standarisasi dalam membandingkan kinerja dari berbagai departemen dalam suatu perusahaan. Perusahaan juga menemukan model bagaimana mengalokasikan kapital secara rasional dalam penyusunan suatu proyek menarik yang potensial menguntungkan. Kemampuan dalam menghasilkan beragam model keputusan dalam pengalokasian modal telah membuat DuPont menjadi salah satu raksasa bisnis Amerika.
Dalam bidang otomotif, Toyota sebagai rajanya mobil memiliki kemampuan mengembangkan para karyawannya. Karena itu perusahaan tersebut memiliki derajad efisiensi dan mutu produk yang tinggi. Lebih dari 40 tahun lamanya, telah dilakukan perbaikan kapasitas Toyota yang bersinambung. Pendekatannya adalah memberikan kepercayaan kepada para karyawannya bahwa mereka mampu untuk memecahkan masalah yang kompleks. Karena itulah kadang-kadang orang menyebut Sistem Produksi Toyota sebagai “Sistem Manusia Berpikir”. Pada tahun 2005, perusahaan menerima lebih dari 540.000 gagasan perbaikan dari karyawan Jepang. Inilah yang disebut sebagai kebijakan Toyota yang arif dalam menghargai gagasan-gagasan para karyawan.
Sebagai contoh lain tentang inovasi manajemen adalah membangun konsorsium. Visa adalah perusahaan dunia pertama yang berhasil menerapkan inovasi kelembagaan. Ketika pada awal 1970’an bank-bank Visa membentuk sebuah konsorsium mereka meletakkan dasar untuk menjadi perusahaan satu-satunya di Amerika, yang memiliki cabang dimana-mana. Tantangan manajemennya adalah membangun sebuah organisasi yang memungkinkan bank-bank untuk berkompetisi dalam hal menarik pelanggan termasuk dalam hal infrastruktur, standar, dan pengembangan merek terkenal. Sekarang, Visa diibaratkan sebagai jaring laba-laba yang mampu mengembangkan jejaring bisnisnya dengan lebih dari 21.000 lembaga keuangan dan 1,3 milyar pemegang kartu. Setiap tahunnya, Visa mampu meraup dua triliun dolar dari jaringan yang dibangunnya-atau kira-kira sebanyak 60% dari transaksi kartu kredit sedunia.
Kasus-kasus di atas hingga kini menunjukkan secara jelas unsur keputusan yang cepat dan cerdas dalam inovasi manajemen sering berperan membantu perusahaan mengembangkan keunggulan yang bertahan lama. Tampaknya tak ada faktor yang mencerminkan instrumen yang sama dalam menjamin keberhasilan persaingan jangka panjang. Artinya setiap perusahaan memiliki inovasi manajemen dengan teknik dan keunggulannya masing-masing.













Prof, ini sekedar pemikiran “liar” semata
… jika dunia bisnis melakukan inovasi dan terobosan demikian menakjubkan, bagaimana dengan dunia akademik ? Mengapa metode ilmiah atau penelitian hampir semua menggunakan metode yang sejenis di mana saya amati mainstream-nya adalah uji hipotesis dengan statistik. Apakah tidak ada pendekatan ilmiah yg lain ? …. just curious Prof …
Oleh: RIRI SATRIA on Desember 31, 2007
at 2:42 am
Bung Riri;Temuan hasil penelitian suatu fenomena tertentu tidak harus merupakan hasil uji statistik. Ini sangat bergantung pada topik,lingkup, dan jenis penelitiannya; analisis yang digunaka apakah kualitatif ataukah kuantitatif. Misalnya dalam penelitian-penelitian ilmu-ilmu sosial,dua pendekatan itu bisa dilakukan. Kalau menggunakan kuntitatif,bisanya kita mengukur tujuan berdasarkan fakta-fakta lewat uji statistik;sementara kalau kualitatif lebih pada thematik yakni mengkonstruksi realitas sosial, perilaku dan memaknai suatu budaya misalnya budaya korporat dan organisasi belajar secara rinci,bisa dengan pendekatan analisis sistem,simulasi, pemodelan,dsb. Selain itu kalau kuantitatif fokusnya pada kumpulan variabel,sementara fokus kualitatif pada analisis proses dan kejadian-kejadian interaktif.Kalau kuantitatif, kunci keberhasilannya pada derajad keandalan datanya, sementara kualitatif kuncinya pada autentik data. Nah,apakah perlu inovasi tentang metode riset khususnya di dunia manajemen bisnis? Jelas perlu. Temuan penelitian fenomena manajemen bisnis tidak harus lahir dari uji statistik. Jangan punya pandangan uji statistik adalah satu-satunya sebagai pendekatan. Dalam mencari kebenaran ilmiah, kaidah yang ada tidak pernah mengatakan bahwa melakukan analisis riset hanya dengan satu alat saja. Istilahnya,Yang lain omong kosong! Saya punya teman (orang Inggeris), 26 tahun lalu melakukan penelitian antropologi sosial tentang ”gift” di salah satu negara afrika hanya dengan menggunakan enam contoh keluarga; dan jadilah disertasi yang bermutu dengan pendekatan kualitatif yang mendalam. Memang yang terbaik adalah kombinasi kedua pendekatan. Saling melengkapi dan itulah inovasi.
Oleh: sjafri mangkuprawira on Desember 31, 2007
at 6:19 am
[...] to Prof Sjafri’s blog about this book, click here, and also here. Both in Bahasa [...]
Oleh: www.RiriSatria.Net … by : Riri Satria | strategy | management | organization | consulting | teaching | daily life » The Future of Management, by Gary Hamel on Januari 1, 2008
at 6:07 am
terimakasih bung riri;sayalah orang yang beruntung mendapat hadiah buku The Future of Management dari anda.Buku terbaik yang pernah saya punya….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Januari 1, 2008
at 7:21 am