Senin, Desember 3rd, 2007


Apa sikap anda tentang “waktu”? Sebagai teman atau sahabat, sebagai kendala, sebagai peluang, atau sebagai unsur menakutkan? Apakah anda bisa merasakan apa yang kaum jomblo renungkan, katakanlah yang berusia 30 tahun-an, ketika sedang berulang tahun? Mungkinkah sang jomblo bertanya-tanya kok dari “waktu” ke “waktu” saya belum dapat jodoh juga?. Disini bisa jadi mereka memandang “waktu” sebagai sesuatu yang ”menakutkan”. “Waktu” sudah menjadi musuh pribadi. Kemungkinan besar mereka tak usah mengingat dan mengadakan acara berulang tahun. Jangan pesimis terhadap waktu, mas atau mbak.Hadapilah “waktu” sebagai suatu kenyataan hidup dan rileks. Percayalah jodoh di tangan Tuhan. Apakah hal itu juga terjadi pada mereka yang bakal memasuki usia pensiun? Bingung apa yang mau dikerjakan dengan ”waktu”? Sehingga memandang ”waktu” sebagai unsur fobia kehidupan? “Post power syndrome”? Seharusnya tidak demikian kalau saja mereka memandang “waktu” sebagai unsur potensial untuk mengerjakan hal-hal yang produktif.Cukup banyak para pensiunan yang hidup sukses karena mengisi waktunya dengan sesuatu yang bermakna.

Contoh lain, apakah  pernah juga anda mengalami perasaan gugup ketika batas “waktu” untuk menyelesaikan tugas hidup begitu sempitnya? Hasilnya tidak optimum? Padahal tenggat “waktu” sudah diberikan begitu lama hidup di dunia ini? Sehingga anda gagal membuat lingkungan sosial utamanya keluarga merasa puas dengan performa anda? Itu artinya anda tidak memandang “waktu” sebagai unsur potensial untuk pengabdian. Juga anda tidak memandang “waktu” sebagai peluang untuk meraih hidup optimum. Sebaliknya pernahkah anda memperhatikan seseorang  bekerja dengan tekun? Penuh pengabdian? Hampir-hampir tidak mengabaikan “waktu” untuk melakukan sesuatu yang sudah diprogramkan?. “Waktu” dipandang sebagai sahabatnya. Dia akan merasa sangat rindu dan sedih kalau kehilangan “waktu”. Mengapa? Karena  “waktu” tak bisa kembali dan diperbaharui.

“Waktu” memang sebagai unsur pembatas. Tetapi  tidak untuk membatasi anda berkarya. Ketika “waktu” dipandang sebagai unsur kritis maka siap-siaplah anda menghadapinya. Dengan kata lain “waktu” tiba-tiba bisa muncul dan menghilang begitu saja. Tanpa permisi. Misalnya mendapat instruksi kerja tiba-tiba dari sang bos! Itu artinya anda menerima “waktu” kerja yang mendadak. Inilah  peluang emas untuk menunjukkan anda punya kompeten dan loyal. Pada gilirannya anda bakal mampu meraih akrir yang lebih baik. Artinya anda sudah berhasil mengubah “waktu” sebagai kendala menjadi peluang. Anda telah begitu sigap dan cerdas berespon tentang “waktu”.

Di sisi lain anda barangkali juga  terlalu sibuk dengan mengatasi masalah-masalah pribadi dan pekerjaan yang menumpuk. Dalam situasi seperti itu jelas saja anda akan sangat sulit untuk mampu memanfaatkan “waktu” kritis secara optimum. Dengan demikian anda telah kehilangan “waktu” yang begitu cepat untuk meraih karir yang lebih bagus. Pelajaran yang dapat dipetik adalah menunda satu masalah maka akan menciptakan lebih dari satu masalah lagi. Jadi seharusnya tak ada kompromi dengan sifat menyiakan-nyiakan “waktu”. Sebaliknya hargailah “waktu”. Kalau tidak: ”Gone with the wind”.”Semua manusia berada dalam keadaan merugi apabila dia tidak mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan yang baik” (Pokok-pokok isi surat Al ’Ashr)

Alhamdulillah, setelah melalui tahapan perjalanan cukup panjang, akhirnya sidang Majelis Wali Amanat IPB sekitar pukul 12 siang, 3 Desember 2007, telah memilih dan menetapkan Dr.Herry Suhardiyanto,MSc (Wakil Rektor II, Dosen Fateta IPB) sebagai Rektor IPB periode 2007-2012. Dia lah satu-satunya  rektor sepanjang sejarah IPB yang bukan berasal dari kalangan guru besar. Sidang yang dihadiri Menteri Pendidikan Nasional,Prof. Dr.Bambang Sudibyo, diawali dengan paparan dan diskusi tentang rencana strategis (Renstra) masing-masing calon rektor.

Herry, yang dilahirkan 48 tahun yang lalu di Banyumas, mengetengahkan gagasan utamanya yakni menyelaraskan mosaik transformasi IPB menuju Research-based Enterpreneurialship University Kelas Dunia dengan Kepemimpinan yang Melayani dan Terpercaya. Semoga dengan kepemimpinan yang baru dan dukungan seluruh sivitas akademika, IPB dengan selalu mengharap ridha Allah akan semakin berkembang. Amiiin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 119 pengikut lainnya.