Oleh: sjafri mangkuprawira | Oktober 28, 2007

SUMPAH PEMUDA DAN PENGANGGURAN

Sumpah Pemuda :satu. tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Ikrar itu dideklarasikan 79 tahun yang lalu dalam Kongres Pemoeda di Jakarta. Lahir sebagai refleksi dari kebangkitan nasional. Ia juga sebagai cikal bakal  dan sumber inspirasi lahirnya kemerdekaan. Intinya adalah bagaimana dengan sumpah pemuda dapat diwujudkan spirit kebangsaan, kesatuan dan persatuan bangsa pada setiap warganegara Indonesia. Dalam tataran kehidupan bangsa jangka panjang ia merupakan sebuah kontrak politik. Pertanyaannya apakah semangat itu masih begitu menggelora hingga kini? Apakah  spirit sumpah pemuda yakni kemerdekaan dan kebebasan sudah terwujud? Kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan tidak perlu diperdebatkan. Namun utamanya kebebasan dari ketidak-adilan perlakuan hukum, keserakahan (korupsi), konflik sosial, kebodohan, kesehatan, dan kemiskinan ternyata belum sepenuhnya. Dari sisi kemiskinan antara lain terlihat dari angka pengangguran khususnya di kalangan pemuda.

Angka pengangguran terbuka pada tahun 2005 tercatat lebih dari sepuluh juta orang atau 9.86% dari jumlah angkatan kerja. Ditambah dengan pengangguran setengah terbuka sebanyak 27,.5% maka total angka pengangguran menjadi sekitar 29 juta jiwa. Dari angka  pengangguran terbuka, sebanyak 37.8% itu merupakan angkatan kerja berusia muda (15-24 tahun). Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada kalangan muda itu. Pada sisi mikro bakal terjadi perasaan stres dan depresi bahkan seperti warga tak berguna. Tidak jarang lalu nekad melakukan tindakan kriminalitas.  Pada sisi makro pengangguran merupakan pemborosan sumberdaya khususnya sumberdaya manusia (SDM), beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dan hambatan pembangunan jangka panjang. Lalu bagaimana sebaiknya? Apakah perlu ikrar sumpah pemuda yang baru?

Tidak perlu ikrar sumpah pemuda yang baru. Terpenting bagaimana menterjemahkan spirit sumpah pemuda dalam wujud nyata dalam suasana kebersamaan. Untuk itu sektor investasi seharusnya mampu mengatasi pengangguran. Memang hasilnya belum memuaskan karena investasi lebih banyak pada produksi manufaktur yang bercirikan kapital intensif. Sementara pembangunan pertanian dan perdesaan juga belum maksimum mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Selain menggerakkan dua sektor tersebut secara optimum tak ada salahnya kalangan pemuda membangun suatu ”gerakan nasional produktivitas” di berbagai sektor kehidupan untuk mengatasi pengangguran. Termasuk di dalamnya penerapan sistem pengembangan SDM yang link and match dengan dunia kerja. Gerakan ini akan menjadi payung dalam mengimplementasikan strategi pembangunan yang  pro growth, pro job, dan pro poor.   


Tanggapan

  1. [...] Sumpah Pemuda dan Pengangguran oleh Prof Sjafri Mangkuprawira [...]

  2. Sumpah pemuda merupakan ikrar awal bahwa bangsa ini tdk akan diceraiberaikan, tidak akan di devide et impera lagi, pernyataan nasionalisme pertama kali oleh para pemuda pd jamannya dan niat suci luhur untuk melepaskan dr keterbelakangan, kebodohan serta penjajahan.
    skr kita masih dijajah kemiskinan, korupsi, dan ketidakpastian.
    sekarang kita tdk perlu ada sumpah pemda lanjutan, yg kita perlukan hanyalah niat dr diri kita bahwa kita harus bangkit dari keterpurukan apa saja yg kita miliki skr misalnya tukang sayur berjualanlah yang jujur dan berkualitas, tukang bakso buatlah bakso tanpa boraks, ibu rumah tangga didiklah anak dengan baik dan ikhlas, para PNS bekerjalah dengan baik tanpa KKN, para pekerja swasta bekerja dengan etos yng tinggi, dan para pengangguran pantang menyerah tetap mencari pekerjaan dan berdoa.
    BTW pa’ Prof kemaren tgl 27 Okt 2007 dicanangkan sbg Hari Blogger Nasional di Blitz Megaplex yg dihadiri oleh Menteri Depkominfo Bpk M.Nuh dan para Blogger sebanyak 400-an orang.
    Selamat Hari Blogger Nasional semoga sumbangan para blogger dapat mencerdaskan bangsa, Amin.

  3. Soal Sumpah Pemuda, sebetulnya salut sekali dengan mereka. Inget lho, Sumpah Pemuda itu ikrarnya bertanah air satu, berbangsa satu : Indonesia. Dan hebatnya bukan berbahasa satu, tapi menjunjung bahasa persatuan : bahasa Indonesia. Jadi dari dulu sudah didasari, kalau perbedaan berbahasa itu ada…..

  4. terimakasih mas sbw;ya kita sangat menghargai para pendiri bangsa ini……yang telah meletakkan landasan bertanah air,berbangsa,dan berbahasa persatuan…bahasa indonesia…..

  5. sependapat dengan anda mas ridwan tentang makna sumpah pemuda dan impelentasinya…..btw boleh cerita dong tentang pertemuan blogger nasional…apakah dibentuk asosiasinya?

  6. mas axi…..terimakasih telah mensyiarkan artikel saya itu di blog anda….

  7. Semua orang bilang bahwa sumpah pemuda adalah tonggak sejarah yang sangat penting. Itu cikal bakal lahirnya Indonesia. Bayangkan kalau itu tidak ada. Pasti sangat tidak enak menjadi orang yang tidak punya negara. Yang perlu dipahami, bagaimana ide itu bisa diwujudkan dan makin besar di situasi yang sangat sulit pada masa itu? Ternyata orang memang harus selalu punya semangat agar bisa keluar dari kesulitan. Soal pengangguran? Selalu ada cara untuk mengatasi suatu masalah. Dicoba satu demi satu. Harus dengan banyak orang. Soalnya yang nganggur banyak banget nih. Ini masalah kita semua. Yang sudah punya karier harus tetap semangat menolong yang masih nganggur. Dan yang nganggur harus tetap semangat menolong dirinya sendiri. Itu baru Indonesia. http://dermaga01.wordpress.com

  8. terimakasih bung johan atas ulasannya yang bagus……

  9. Hidup generasi muda….

    info blogger just tanya pada Mbah Google dengan keyword “flickr tag pb2007″
    pb=pesta blogger
    saya cuma datang di muktamar blogger (10 jam sebelumnya)
    ada acara penggalangan dana untuk anak2 di daerah bangsari yang kurag beruntung agar dapat bersekolah lebh lanjut tao bisa lihat klik saja ini
    http://bangsari.blogspot.com/

    ya kalau bapak mau ikutan nongkrong di komunitas kami juga tidak apa
    kami punya BHI…
    komunitas blogger bundaran hotel indonesia
    kompul di bunderan hotel indonesia
    kumpul sminggu sekali, jumat malem jam 9 an

    this my link: http://bagussugiarto.wordpress.com/

    ada juga yang mau kenalan: http://hmifapetipb.wordpress.com/

    makasih pak

  10. Assalamualaikum,
    Prof..mungkin PR kita adalah menggubah mindset KEBUTUHAN & KEINGINAN.
    Teori Ekonomi kapitalis mengatakan: KEBUTUHAN MANUSIA TIDAK TERBATAS, TAPI SARANA PEMUASAN TERBATAS.
    nah padahal sebenarnya:
    KEBUTUHAN MANUSIA TERBATAS, ex:makan tidak mungkin lebih dari 5 piring kan??
    tetapi KEINGINAN MANUSIA-LAH ANG TIDAK TERBATAS.ex:ada orang yang punya mobil pribadi yang lebih dari satu malah ingin nambah.

    Dalam suasana sumpah pemuda ini, mari kita ajak para pemuda untuk mengendalikan KEINGINAN yang tidak perlu. Mengalihkan modal untuk sektor2 produktif daripada hanya untuk yg konsumtif. Menggunakan modal untuk meningkatkan SDM masyarakat (ex:menyediakan kurrsus bagi masyarakat miskin).

  11. sependapat dengan anda dok; “kebutuhan” lebih bersifat universal ketimbang “keinginan” yang lebih banyak didasarkan pada cita-cita saja…..btw karena kebutuhan (banyak ragam,misal bukan nasi saja tetapi perlu kentang,roti,kueh dsb) tak terbatas sedang sumberdaya terbatas maka timbullah pilihan yang harus diambil…..untuk memaksimumkan kepuasan……kalau tidak hati-hati atau irrasional…muncullah sifat rakus……

  12. nanda bagus….terimakasih atas infonya……

  13. Assalamualaikum wr wb

    Saya tertarik untuk memberi komentar mengenai pengangguran, terutama menyangkut pengangguran intelektual atau pengangguran terdidik yang menunjukkan adanya mismatch pada pendidikan tinggi.

    Menurut saya, sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global. Pembangunan ekonomi nasional diyakini akan berhasil jika didukung SDM yang handal. Untuk itu, PT dinilai bertanggung-jawab dalam penyediaan SDM tersebut.

    Sayangnya, fakta yang terjadi justru PT merupakan salah satu penyuplai pengangguran terdidik yang cukup besar. Jika melihat data BPS, hasil Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dalam 5 tahun terakhir jumlah lulusan PT yang menganggur semakin banyak. Pada tahun 2002, jumlah penganggur terbuka lulusan Akademi/Universitas sebanyak 519.000 orang. Jumlah ini cenderung meningkat setiap tahunnya menjadi 445.000 orang (2003), 558.000 orang (2004), 708.254 (2005), 672.786 orang (2006) dan 740.206 (2007).

    Kecenderungan ini bukan tidak mungkin akan berlanjut di tahun-tahun mendatang, mengingat dari sisi suplai, jumlah lulusan PT juga semakin bertambah. Apalagi kebijakan pemerintah yang berupaya serius meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi. Pada tahun 2006, APK jenjang pendidikan tinggi baru mencapai 15,56 persen atau sebanyak 3.940.000 mahasiswa. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 16,74 persen tahun 2008 atau 4.556.500 mahasiswa dan 18 persen atau 4.556.500 mahasiswa pada tahun 2009.

    Sistem pendidikan tinggi yang ada di Indonesia sesungguhnya masih menghadapi berbagai persoalan, di antaranya persoalan kualitas lulusan. Selain itu, dari segi kualifikasi lulusan PT, masih banyak belum sesuai dengan tuntutan dan peluang kerja yang ada. Jumlah PT di Indonesia saat ini mencapai 2.833, tetapi kebanyakan menghasilkan lulusan pada bidang yang sudah jenuh dengan kualitas yang tidak memadai.

    Sementara itu, banyak bidang yang diperlukan di masyarakat justru tidak digarap dengan serius oleh PT yang ada. Pembukaan fakultas dan program studi lebih merupakan tuntutan kemudahan dan kepraktisan saja. Akibatnya terjadi penumpukan lulusan pada bidang-bidang tertentu terutama humaniora dan keteknikan.

    Data Depdiknas RI tahun ajaran 2005/2006, memperlihatkan jumlah lulusan bidang manajemen dan ekonomi sebanyak 98.670 orang atau 30,5% dari total jumlah lulusan. Jumlah yang besar juga terdapat pada bidang keteknikan sebanyak 50.893 orang (15,8%), bidang keguruan 68.168 (21,1%) dan bidang hukum 14.382 (4,5%). Sementara itu, sisanya yang tersebar diberbagai bidang sebanyak 90.782 (28,1%).

    Di sini sesungguhnya peran kebijakan pemerintah sangat diperlukan dalam menyelaraskan pendidikan tinggi dengan tuntutan dunia kerja. Karena itu, pernyataan Presiden SBY dalam Rembuk Nasional Pendidikan untuk mendekatkan tiga pihak, yakni pemerintah pusat dan daerah, PT, serta kebutuhan lapangan kerja; perlu untuk ditindak lanjuti secepatnya. Ketiga pihak tersebut perlu duduk bersama untuk merumuskan cetak biru (blue print) kebutuhan pasar kerja terhadap lulusan PT.

    Blue print tersebut dibutuhkan untuk memetakan proyeksi jumlah dan kualifikasi lulusan PT baik dalam jangka pandek (5 tahun), jangka menengah (10-15 tahun) dan jangka panjang (20-25 tahun). Pemetaan terhadap bidang studi yang sudah jenuh juga perlu dilakukan sebagai pertimbangan dalam pemberian ijin pendirian fakultas atau program studi tertentu, sehingga penumpukan lulusan tidak terjadi.

    Selain itu, perlu juga dirumuskan kembali strategi implementasi program “link and match” melalui “cooperative education” dan “dual system”, dalam upaya mengintegrasikan kurikulum pembelajaran PT dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu perlu upaya peningkatan kemampuan dalam pembobotan kurikulum, mutu tenaga pengajar, dan kepedulian dunia kerja.

    Penting juga dikembangkan iklim pendidikan tinggi yang mendukung kemampuan wirausaha mahasiswa, sehingga lulusan PT tidak hanya terjebak menjadi pencari pekerjaan, melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Semoga !!!

    Wassalamualaikum wr wb

    Ananda Alim

  14. waalaikum salam ww…….Terimakasih nanda Alim atas uraiannya yang komprehensif…….sekurang-kurangnya ada beberapa faktor penyebab pengangguran yakni kegagalan pasar, terjadi apabila lulusan tidak bisa diserap oleh mekanisme pasar…….faktor¬-faktor yang mempengaruhi kegagalan pasar…… pertama, sifat dan mutu lulusan yang rendah atau di bawah standar pasar atau tidak sesuai kebutuhan pasar…….kedua, karakteristik tujuan proses pembelajaran apakah menghasilkan mutu lulusan yang berorientasi pasar atau menciptakan jumlah lulusan semata hanya untuk meraih keuntungan sesaat,………ketiga , karakteristik struktur pasar, apakah industri berorientasi capital intensive ataukah labour intensive…..disamping itu pengangguran bisa jadi karena unsur kegagalan pemerintah dengan kebijakannya yang dapat dilihat dari spektrum yang luas, mulai dari tingkat pemerintah pusat sampai daerah dengan program pengembangan investasinya yang tidak efektif……..hal ini tercermin dari unsur penyebabnya yakni masih bekembangnya praktek korupsi, infrastruktur yang rusak, lemahnya insentif investasi, ketidak-efisienan perizinan, dan ketidak-pastian hukum.

  15. Dengan membaca artikel “sumpah pemuda dan pengangguran” dari bpk dan sekaligus uraian dari Bpk Alim, saya menjadi tersadar bahwa mungkin saya adalah salah satu dari “calon pengangguran intelektual” tadi, mengingat saya adalah mahasiswa tingkat akhir. Yang terpikir oleh saya adalah saya menjadi “KORBAN” dari adanya miscomminication antara pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tentunya terkaitan dengan ketenagakerjaan, dengan PT sebagai pihak penyedia SDM. Lalu apa yang harus saya lakukan pak?

  16. yodi….jangan pesimis……pengangguran tak hanya terjadi karena aspek arena kebijakan makro tetapi juga oleh kegigihan yang kurang dari lulusan….so olahlah tantangan menjadi peluang…….be sure anda bisa….kelolalah semua potensi anda seoptimum mungkin……

  17. Assalamualaikum wr wb

    Ayahanda, kalo berkenan saya mau menambah komentar dari apa yang disampaikan sdr Yodi…

    Sebenarnya masalah pengangguran adalah tema yang senantiasa digagas oleh setiap pelaku ekonomi, baik pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat. Meskipun sudah banyak resep dilaksanakan pemerintah, namun tetap saja angka pengangguran tetap tinggi dan akhirnya selalu menjadi PR bagi bangsa ini. Pertanyaannya jika pemerintah masih belum berhasil menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap warganya, apakah kita harus berpangku tangan saja? Tidak mungkin khan? Jadi menurut saya, pendapat ayahanda Prof. Sjafri sangat tepat yaitu bagaimana setiap individu dapat mengolah tantangan menjadi peluang dengan mengandalkan segenap kemampuan, semangat dan epos (energy positif) yang dimiliki.

    Makanya menyambung komentar saya sebelumnya, salah satu upaya yang seharusnya dilakukan banyak pihak termasuk pemerintah, dunia usaha dan lembaga pendidikan yaitu menggeser paradigma (shifting paradigm) berfikir masyarakat dari berorientasi mencari pekerjaan menjadi menciptakan peluang pekerjaan. Paradigma ini penting dibangun dan dikembangkan untuk menciptakan fokus dari upaya pemecahan krisis masalah ketenagakerjaan dan pengangguran sekaligus mengembangkan potensi kemampuan SDM yang mandiri dan berdikari. Salah satu cara yang ditempuh itu adalah mengembangkan jiwa kewirausahaan. Khusus bagi lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi, bukan cuma menumbuhkan semangat, tapi membangun konsep berfikir dan mendorong secara praktis kemampuan enterpreneurship mahasiswanya.

    Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (creatif new and different) melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang. Banyak orang yang berhasil dan sukses karena memiliki kemampuan berfikir kreatif dan inovatif. Jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) bukan hanya monopoli oleh usahawan, melainkan dapat dimiliki oleh setiap orang yang berfikir kreatif dan bertindak inovatif.

    Dari salah satu buku yang pernah saya baca, kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan penciptaan peluang (think new think). Sementara inovasi merupakan kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka pemecahan masalah dan menemukan peluang (doing new thing). Sesuatu yang baru dan berbeda yang diciptakan melalui proses berfikir kreatif dan bertindak inovatif merupakan nilai tambah (value added) dan merupakan keunggulan yang berharga. Nilai tambah yang berharga adalah sumber peluang bagi wirausaha. Ide kreatif akan muncul apabila wirausaha “look at old and think something new or different”.

    Wassalamualaikum wr wb

    Ananda Alim

  18. waalaikum salam ww……bagus sekali uraian nanda alim….terimakasih…….ya seharusnya generasi muda bahkan sekalipun yang sudah tua-tua mampu berpikir out of the box……..

  19. kemauan yang tinggi tanpa mengandalkan orang lain itualah kunci sukses bagi lulusan-lulusan baru, padahal SDA kita cukup kaya tapi tidak dibarengi dengan SDM yang memadai sehingga negara kita tetap miskin dan tergantung pada negara lain. Terus apakah kita akan berpangku tangan tanpa melakukan usaha, Sebenarnya kurikulum yang diubah dari SD sudah dipelajari untuk menjadi wirausaha, misal membuat makanan ketela diolah menjadi nilai jual tinggi dan bagiamana memsarkan atau membuat bibit ketela dengan hasil yang banyak. DAri itulah akan terpanggil jiwa wiarausaha ga usak pelajaran hapalan buat kepala pusing abis lulus g dipakai itu aja youu

  20. ya mas aris…….disamping diperlukan kurikulum yang berbasis kewirausahaan tapi jangan lupa berbasis ilmu yang berbakat dan berpotensi sebagai peneliti……..sinyalemen anda betul……pengembangan kurikulum harus dikaitkan dengan kebutuhan pasar……


Beri tanggapan

Your response:

Kategori