Masalah SDM di Indonesia sangat kompleks. Hal ini dicirikan oleh beberapa indikator berikut:
o Pertumbuhan angkatan kerja lebih besar
ketimbang ketersediaan lapangan kerja.
o Distribusi penduduk antardaerah tidak merata.
o Ketidaksesuaian kompetensi SDM dengan pasar kerja.
o Ketidakseimbangan kebutuhan pelayanan publik
dengan jumlah petugas.
o Distribusi informasi tentang pasar kerja yang
lambat atau timpang.
o Pengangguran dan kemiskinan yang menyebabkan
pendidikan dan kesehatan rendah.
Studi Political and Economical Risk Consultancy (2001); derajad pendidikan di Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Paling buncit. Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina, berada di atas Indonesia.Laporan UNDP, United Nations Development Programme, dalam “Human Development Report 2003″ tentang kualitas pembangunan manusia. Dari 174 negara, Indonesia berada pada peringkat ke-112. Sementara Singapura mencapai peringkat ke-28, Brunei Darussalam ke-31, Malaysia ke-58, Thailand ke-74, dan Filipina ke-85.
Selain itu kemudahan untuk berusaha di Indonesia pada tahun 2005-2006 berada di peringkat ke-135 dari 175 negara (International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia). Alasan sangat klasik terjadinya keterpurukan itu yaitu tidak efesiennya birokrasi.
o Perizinan bisnis sudah berubah menjadi transaksi bisnis atau bisnis balas jasa.
o Birokrat yang seharusnya melayani (aktif) publik berubah menjadi dilayani (pasif) publik..
o Kalau tidak dilayani, proses perizinan bakal semakin panjang dan lama yang meningkatkan biaya ekonomi tinggi.
Kondisi itu menyebabkan derajad daya saing usaha Indonesia mencapai peringkat ke-60 dari 61 negara (survei International Institute for Management Development ;2006),. Ada tiga indikator besar penyebab daya saing rendah.
Pertama, faktor ekonomi makro, seperti ekspektasi resesi dan kondisi surplus atau defisitnya suatu negara yang masih memprihatinkan. Tingkat pertumbuhan ekonomi relatif masih lambat, tingkat penyerapan tenaga kerja masih rendah, investasi berjalan lambat dan kemiskinan masih tinggi.
Kedua, institusi publik dan kebijakan yang diambil dalam melayani kebutuhan masyarakat masih jauh dari optimum. Masyarakat masih dihadapkan pada kesulitan memperoleh pelayanan maksimum.
Ketiga, teknologi yang digunakan dalam proses produksi masih belum menghasilkan produk-produk yang mampu bersaing di pasar global.













Apakah faktor-faktor di atas saling berkait satu sama lain dan saling mempengaruhi? Kalau misalnya iya, darimana kita seharusnya memulai membenahi diri ya? Sepertinya ini lagi-lagi benang kusut yang sulit ditegakkan. O iya, kalau faktor kualitas SDM yang tidak merata di seluruh negeri apakah juga termasuk masalah SDM di negeri ini prof?
O iya prof, data untuk Human Development Index 2006, dapat prof lihat di sini .
Oleh: Yari NK on Oktober 29, 2007
at 2:29 am
terimakasih mas yariNK tentang masukan datanya…..oh ya antar variabel bisa saling mempengaruhi…..bergantung mana yang dependent dan independent variabel……misal kemiskinan dipengaruhi tingkat pendidikan atau sdm dan variabel mutu pelayanan publik…..namun bisa jadi ketika kita menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat pendidikan adalah variabel kemiskinan….tentang mulai dari mana benang kusut itu dibenahi?…wah tergantung pada schoolnya…kalau saya sebagai peminat bidang sdm….semuanya berangkat dari mutu sdm;bukan sumberdaya alam…..beberapa negara maju seperti singapura,jepang, dan korea selatan dicirikan oleh mutu sdm yang tinggi bukan oleh melimpahnya sda…..human investment…..nah ini pulalah yang dilakukan malaysia dan thailand…..salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on Oktober 29, 2007
at 9:41 am