Perkataan komunikasi bukan merupakan suatu kegiatan  yang asing, karena semua manusia praktis melakukan kegiatan komunikasi dalam kehidupannya sehari-hari. Tanpa  disadari  sekitar 90  persen  dari  kegiatan  seseorang dalam satu hari adalah berkomunikasi.  Sejak bangun tidur sampai pergi tidur lagi manusia berkomunikasi dengan segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Kita ambil contoh,  ketika bangun tidur di pagi hari, manajer melihat jam di dinding untuk mengetahui pukul berapa pada saat itu. Dalam hal ini manajer sudah berkomunikasi dengan orang yang membuat angka-angka di jam dinding tersebut sehingga mempunyai makna tertentu. Jadi bukan berkomunikasi dengan jam sebagai benda. Jika ternyata jam di dinding pada saat terbangun menunjukkan pukul 7.00 pagi padahal manajer harus bertemu dengan seseorang pada pukul 7.30 pagi maka manajer akan berkomunikasi dengan dirinya sendiri “waduh, aku terlambat nih”. 

Sama halnya ketika  berhenti di jalan dekat lampu lintas. Anda diingatkan kapan  boleh jalan dan kapan harus menghentikan kendaraan.Padahal disitu tak ada orang yang mengaturnya. Coba kalau anda bandel, walau lampu merah bernyala pun  tetap saja jalan. Rasanya aman tenteram. Namun tiba-tiba sang polisi di ujung jalan lain sudah siap-siap menangkap anda. Lalu negosiasi cincai pun terjadilah. Jadi  komunikasi seharusnya bermakna juga dalam membentuk jiwa disiplin.

Begitu juga dengan seorang manajer  yang melakukan sebagian  besar tugasnya sebagai pengelola dalam  bentuk kegiatan memotivasi, menjelaskan, berbicara dan berdiskusi dengan para karyawan maupun  dengan  mitra kerja. Semua kegiatan manajer tersebut  dilakukan dengan  cara berkomunikasi. Kegiatan koordinasi dan penyeliaan yang dilakukan oleh manajer tersebut akan berhasil jika dan hanya jika  terjadi  kesamaan makna antara dia dan karyawannya. Dengan demikian, kemampuan berkomunika­si secara efektif merupakan suatu  aset yang akan membantu kelancaran  tugas-tugas pengawasan dan penyeliaan dari manajer yang bersangkutan 

About these ads