Katakanlah anda sebagai manajer suatu perusahaan. Anda membawahkan sejumlah karyawan. Disini salah satu fungsi manajer adalah membangun tim kerja yang efektif. Pertanyaannya apakah anda otomatis juga berperan sebagai motivator? Nah untuk mengetahuinya, anda harus memetakan cita-cita pekerjaan dan potensi motivasi anda.
Yang pertama, memahami tujuan hidup anda seperti; apakah anda memiliki tujuan yang terinci; apakah ketika merumuskan tujuan anda dikaitkan dengan sumberdaya yang anda miliki; apakah anda selalu mengembangkan pengetahuan anda; apa dan bagaimana dengan karir anda; dan seberapa besar cita-cita anda sudah tercapai.
Kemudian hal yang kedua adalah anda perlu memahami identitas diri anda. Apakah anda termasuk menyukai diri anda sendiri; apakah anda termasuk pekerja keras; apakah anda biasa menghargai orang lain; apakah anda memiliki banyak teman yang baik; apakah anda memiliki selera humor; apakah anda menyenangi pekerjaan anda; apakah anda benar-benar sudah menjadi pembimbing; apakah anda mampu mengelola waktu anda dengan efisien; apakah anda memiliki rekan kerja yang baik; apakah anda memiliki naluri dalam mengatasi konflik; apakah anda melibatkan karyawan untuk merumuskan, melaksanakan, dan menilai tujuan kelompok atau perusahaan anda.
Kalau jawaban anda sebagian besar bernilai positif berarti anda sudah menjadi motivator. Tidak saja untuk orang lain tetapi juga untuk anda sendiri. Dengan kata lain anda sudah mampu membangun motivasi sekaligus komitmen kerja di kalangan karyawan. Anda sudah diteladani oleh para karyawan karena anda dipandang sebagai pekerja keras yang selalu meningkatkan pengetahuan, menghargai orang lain, dan melibatkan karyawan untuk berpartisipasi aktif.
Disini anda sudah mampu membangun nilai-nilai organisasi belajar. Suatu set nilai yang berisikan tentang kepercayaan bahwa bekerja dengan keras, jujur, prestasi, siap dengan tantangan, dan amanah sudah merupakan nilai-nilai kehidupan pribadi dan kehidupan profesi semua karyawan. Pertanyaannya apakah semua manajer sudah mampu membangun suasana seperti itu?













Kalau jawaban anda sebagian besar bernilai positif berarti anda sudah menjadi motivator
tapi pak, kalo pertanyaan tentang diri kita dan kita sendiri yang menjawab, bukannya penilaiannya jadi kurang ‘akurat’?
seperti banyak orang yang bilang, kita tidak bisa menilai diri kita sendiri kecuali orang lain..
tapi bagaimanapun, kita juga harus belajar memahami diri kita sendiri ya pak, sebelum memahami orang lain…
Oleh: dinda on September 30, 2007
at 11:24 am
anda benar sekali dinda; tidak mudah menilai diri sendiri…..tapi demi perbaikan kinerja seharusnya ybs dapat menyingkirkan bias penilaian selalu ke arah skor positif padahal sebenarnya tidak demikian…..nah bias ini bisa terjadi ketika kinerja ybs dinilai atasan …. sering menilai dirinya positif berlebihan…..padahal itu akan merugikan dirinya sendiri dalam jangka panjang…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 30, 2007
at 12:00 pm
Apa khabar Pak? Semoga sehat dan sukses selalu bersama keluarga anda. Saya Alumni Faperta IPB Angkatan 33 dan sekarang menjabat sebagai Head Manager sebuah Bimbel di Bogor. Mudah2an ilmu yang bapak berikan bisa bermanfaat untuk kedepannya khususnya bagi saya pribadi.
Sekali lagi Sukses yach Pak karena kita terakhir ketemu waktu di Hotel Safari Garden Cisarua Bogor Tahun 1998.
Mantan Aktivis BPP-ISMPI
Oleh: Agrend Wisnu Kusuma, SP. on Oktober 5, 2007
at 12:40 pm
alhamdulillah mas wisnu,baik-baik saja…semoga anda pun demikian……ya saya mencoba mengingatnya…..sukses selalu
mantan pendiri dan ketua umum Ikatan Mahasiswa Pertanian Indonesia 1969….
Oleh: sjafri mangkuprawira on Oktober 5, 2007
at 1:43 pm