Ada perusahaan yang memiliki kinerja bisnis tergolong bagus. Hal itu dicerminkan dari omset penjualan sesuai dengan dan bahkan melebihi target. Tingkat keuntungan bisnis pun meningkat. Semua kinerja itu dihasilkan berkat kepemimpinan mutu direktur operasi perusahaan itu bernama Sukma. Setiap rancangan produksi dan penjualan dibuat dan diputuskan sendiri oleh dia. Subordinasinya hanya menjalankan petunjuk dari Sukma dan kemudian melaksanakannya. Itulah salah bentuk koordinasi yang dilakukannya. Dengan kepemimpinan seperti itu tampaknya Sukma menutup kontak alur gagasan dari subordinasinya. Dia sangat yakin semua keputusannya adalah tepat dan benar. Karena keberhasilannya kalangan direktur lainnya dan bahkan manajemen puncak merasa sangat segan terhadap Sukma.
Suatu ketika salah seorang direktur bidang lainnya, sebut saja Wati, mengikuti suatu seminar bertema “kepemimpinan mutu”. Salah satu sub-topik yang dibahas adalah kekuatan dan kelebihan kepemimpinan model “one man show”. Kemudian dalam suatu kesempatan rapat direksi, Wati menginformasikan hasil dan kesan-kesan selama mengikuti seminar itu. Dalam rapat itu pimpinan puncak mengajak semua peserta rapat untuk membahas apakah model kepemimpinan “one man show” di perusahaan itu di nilai cocok. Hampir semua peserta kurang menyetujuinya karena model itu lebih banyak kelemahan ketimbang kekuatannya. Dalam jangka panjang akan merugikan perusahaan, tambahnya. Nah, bagaimana pendapat Anda tentang model kepemimpinan “one man show” itu.













Kalau perusahaan itu milik pribadi, saya pikir sah-sah saja. (Kelemahannya bila sang pemilik/pengatur sudah pensiun, biasanya perusahaan jadi gulung tikar karena penerusnya tidak mampu menjalankan perusahaan).
Hmmh… saya pikir gaya kepemimpinan yang “non one man show” belum tentu berhasil, walau pun secara teori (sampai diseminarkan segala) katanya lebih bagus.
Jadi, saya pikir fleksible aja. Maaf klo ngelantur Prof…
Oleh: mathematicse on Juli 28, 2007
at 11:24 am
mr math,resiko pokok kepemimpinan “one man show” tidak tersedianya kader penerus…karena mulai dari ide,wewenang, keputusan, dan kontrol ditangani seorang saja…benar kata anda..organisasi yang dipimpinnya rentan kolaps kalau sang pemimpin tidak aktif lagi..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 28, 2007
at 10:22 pm
wah, blog yg bener2 berbobot, bener2 tulisan seorang profesor.
Ehm, saya sudah sering kali berhubungan dengan perusahaan one-man show seperti ini. Mungkin banyak orang berpendapat bahwa perushaan one-man show tidak baik, tapi saya malah menganggapnya bagus dan unik, dan lebih baik dari tipe perusahaan yang birokratik.
Tapi tidak dalam semua skenario bisnis prof.
Tipe one-man show dan out-of-pocket economy paling baik diterapkan pada perusahaan start-up karena terbukti menjadikan perusahaan tersebut agile dan inovatif yang kadang-kadang dont bother about the details (ingat kan devils are in the details).
Lalu apakah berarti kalau perusahaan tersebut menjadi besar harus mengubahnya menjadi birokratik? saya punya saran berikut. Bagaimana klo pake mixed mode, untuk bagian-bagian tertentu seperti produksi dan yg sifatnya mekanistik perlu pakai birokrasi, tapi untuk bagian-bagian yang haruslincah dan pengambilan keputusannya cepat menurut saya tidak perlu ada birokrasi.
Mohon tanggapannya prof,
Oleh: mudakarya on Juli 29, 2007
at 12:14 am
sependapat mas muda..intinya kepemimpinan yang luwes bergantung pada dimensi lingkup ukuran organisasi,lingkup tugas dan masalah,jumlah karyawan,waktu,ruang,dan derajat emergensi,….namun harus diingat ketika memimpin organisasi..sekecil apapun…pasti disitu ada koordinasi….pasti ada pengarahan dan pengendalian….dan pasti ada umpan balik,monitoring dan evaluasi…namun sebagai sistem yang total,selain model one man show kalau ada kepemimpinan non-one man show pun tidaklah harus membangun birokrasi rumit….yang ujungnya tidak efektif dan efisien….dalam situasi tertentu seperti diuraikan terdahulu dia bisa mengambil keputusan yang dinilai terbaik tanpa harus selalu bergantung pada koordinasi yang kaku….selain itu perlu pemberian otonomi dalam hal-hal khusus pada subordinasinya…gunanya adalah menyiapkan kader-kader penerus…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 29, 2007
at 1:03 am
Oleh: mudakarya on Juli 29, 2007
at 1:46 am
Saya rasa absolute one-man show mungkin hanya efektif diterapkan pada perusahaan sole proprietorship di mana perusahaan memang milik pribadi, juga struktur perusahaan juga tidak begitu kompleks, dan mungkin perusahaan ‘belum dapat’ menjaring kualitas SDM yang terbaik di perusahaannya. Namun dengan berkembangnya perusahaan menjadi sebuah perusahaan menjadi sebuah partnership apalagi menjadi sebuah full-fledged corporation yang mengakibatkan semakin kompleksnya struktur perusahaan dan semakin kompleksnya transaksi perusahaan tentu one-man direction menjadi sangat tidak efektif karena hampir tidak mungkin seseorang dapat menangani semua problematika yang ada di perusahaan. Pada saat inilah ia harus mendelegasikan kewenangannya kepada orang2 yang mempunyai profesionalitas yang tinggi untuk mencapai keefektifan operasional.
Oleh: Yari NK on Juli 29, 2007
at 3:29 am
Maaf mas muda,jawaban saya terdahulu telah membuat anda pusing. Maaf yang kedua, saya belum memiliki referensi atau hasil penelitian tentang hubungan jenis bisnis dengan tingkat kecocokan kepemimpinan one man show. Setahu saya tidak ada yang standar. Antarbisnis memiliki keragaman kompleksitas struktur organisasi dan system manajemen masing-masing; dari bisnis keluarga sampai bisnis atau perusahaan terbuka. Dari bisnis domestik sampai multinasional bahkan aliansi internasional..Dari bisnis jasa perorangan seperti penulis, pengarang lagu, penulis skenario film dan sinetron, perias pengantin sampai bisnis jasa yang menggunakan struktur organisasi lebih rumit dan jumlah karyawan yang banyak dengan spesialisasi tertentu.
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 29, 2007
at 10:26 am
bung YariNK;terimakasih atas tambahan info pengetahuannya yang bermanfaat…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 29, 2007
at 10:27 am
one man show bagus jika memang ‘the right man in the right place’. cuma, bagaimana jika perusahaan tersebut suatu ketika kehilangan ‘the valuable man’ tsb ?
saya kira semua keputusan strategis harus dibicarakan dan diputuskan bersama. jika memang dead lock, disitulah dibutuhkan intuisi seorang pemimpin tanpa harus bersikap ‘one man show’
menurut saya lho…
Oleh: passya on Juli 29, 2007
at 11:13 am
mas passya…trims untuk pendapatnya yang menarik…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juli 29, 2007
at 11:30 am
Prof, saya kira banyak argumen yang mampu menggugurkan pernyataan bahwa one man show is the right choice. Ditinjau dari perilaku dan kompetensi pegawai, saya kira perusahaan dengan one man show tidak cocok untuk pegawai dengan kompetensi achievement tinggi, suatu kompetensi yang dituntut ada dalam diri pegawai tuk perusahaan dalam tingkat persaingan tinggi dan lingkungan yang uncertainty. Pegawai tidak mungkin seorang yang sudah masuk di level self actualization-nya Maslow. Tipe ini cocok bagi pegawai dengan kebutuhan direction yang tinggi..’manut-manut’ dan suka ngomong ‘inggih’ (inggih2 tapi mboten kepanggih, he..he..).
Salam,
-aurik-
Oleh: Aurik on Juli 30, 2007
at 2:51 am
salam kenal pak, saya tertarik dgn topik yg bpk angkat.kebetulan saya pernah bekerja di perusahaan dgn sistem “one man show” (tepatnya one woman show)dan sangat mengganggu beberapa dr kami dalam menentukan keputusan dalam bekerja, krn smua keputusan direksi bahkan staf, smua hrs di setujui beliau, meski terkadang merupakan otoritas masing-masing divisi untuk menentukan keputusan. jika melihat kinerja penjualan, luar biasa di atas target, tp mayoritas bawahan bekerja seperti robot!maaf jd panjang, just sharing….
Oleh: Desy on Agustus 2, 2007
at 5:28 am
ya mbak desy,seharusnya yang terpenting bagaimana dengan pendekatan manajemen partnership (bukan one women show) target atau kinerja bisnis bisa tercapai…intinya pengertian organisasi itu kan ada elemen koordinasinya ya..juga ada pemberian otonomi kepada subordinasi sebagai bentuk trust…tidak kerja sendirian…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 2, 2007
at 5:54 am
terimakasih aurik atas tambahan pengetahuannya yang bermanfaat…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 2, 2007
at 5:57 am