Oleh: sjafri mangkuprawira | Juli 23, 2007

KEPRIHATINAN: NASIB SEORANG SAHABAT

          Senin siang ini tersiar kabar seorang sahabat saya mendapat vonis tujuh tahun penjara. Dia  menjadi terdakwa karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi ketika masih menjadi Menteri Perikanan dan Kelautan dalam Kabinet yang dipimpin Megawati. Tentu saja saya sangat prihatin akan vonis itu. Sebagai seorang “kakak”, saya banyak mengetahui tentang beliau. Orangnya ramah, dermawan dan rendah  hati. Pengetahuan dan perilaku keseharian dalam keagamaan begitu kuat dan mendalam.  

        Pemikiran-pemikiran dan daya juang, khususnya tentang pembangunan bidang kelautan,  perikanan, kepulauan, pesisir, dan lingkungan sangat   cemerlang dan taat-asas. Karya tulisnya cukup banyak dimuat dalam jurnal ilmiah berskala nasional dan internasional. Pemikiran dan gagasan-gagasannya yang bagus sudah tampak ketika awal 80’an.Ketika itu dia cukup sering diskusi  di ruang kerja saya, Departemen Sosek Faperta. Kebetulan ruang kerja saya hampir-hampir tak pernah sepi dengan kolega dan mahasiswa untuk berdiskusi dan konsultasi.

      Sepulang dari Kanada, setelah menyelesaikan PhD tahun 1991, karirnya begitu melejit. Dia pernah menjadi Pembantu Dekan I Fakultas Perikanan IPB, Kepala Pusat Penelitian Pesisir dan Kelautan IPB, dan Pembantu Rektor IV IPB. Karena itu wajar  kalau dia pernah terpilih sebagai dosen teladan nasional. Setelah itu dia pernah menjadi Direktur Jendral dan kemudian menjadi Menteri Perikanan dan Kelautan.

      Dari gambaran pribadi tersebut, sekali lagi saya tidak pernah mengira  sahabat saya menjadi  pelanggar hukum pidana. Dindaku, semoga Anda tabah, sabar, dan tawakal dalam menghadapi ujian ini. Amin. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (ash-Shaaffaat; 106). Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (al-Baqarah; 45).   


Tanggapan

  1. Membaca komentar Bapak, saya menjadi agak gamang, seseorang yang terlukiskan sangat bagus, santun, profesional dan memiliki intelektulitas tinggi saja sepertinya menemukan kesulitan untuk melawan suatu sistem yang barangkali sudah sangat berakar di birokrasi kita: korup!! Darimana memulainya untuk memperbaiki negara kita ini? Diwaktu bebergian ke negara tetangga saya kadang iri melihat negara yang dulunya jauh dari kita sekarang bisa sangat maju. Melihat kejadian ini mestinya kita juga BISA. Bagaimana memulainya? Saya berpikir yang utama dan terutama adalah kualitas “Pemimpin” disegala lapisan. Kita yang berkecimpung didunia pendidikan, peran apakah yang bisa kita mainkan untuk menelorkan “pemimpin” berkualitas? Masih adakah kebanggan tersisa dibenak kita menjadi orang Indonesia? Harus dan Indonesia harus berubah… kita semua yang melakukannya.

  2. Hmm….

    Sebaik – baiknya orang, dia juga mempunyai sifat buruk.

    Hanya saja berbeda kualitasnya.

  3. ya mas aris,tak pelak dosen pun seorang manusia biasa..terlepas dari intrik politik,kalau tidak memiliki karakter kepemimpinan yang amanah begitulah jadinya..rentan dan mudah terkontaminasi pada virus sistem birokrasi yang korup…

  4. bung mihael,ya tiap orang mutunya berbeda…seburuk-buruk orang bisa jadi dia juga punya kebaikan…

  5. Memang nasib orang tak bisa ditebak.

    Mudah-mudahan bila memang tak bersalah segera terbebas.

  6. Banyak orang yg lulus ujian akademik dengan baik namun ia ternyata gagal dalam ujian ’sebenarnya’ di tengah masyarakat. Begitu pula ada yang tdk dpt lulus ujian akademik dengan baik namun ternyata cukup berhasil dalam ujian di tengah masyarakat. Itu menandakan bahwa manusia tidak ada yg sempurna. Sepandai-pandai tupai melompat ia akan jatuh juga! Dan itu berlaku untuk setiap orang.

  7. bung math,ya masih ada jalan lain seperti menunggu hasil banding…atau mungkin peninjauan kembali (PK)…

  8. benar mas yariNK;manusia tak ada yang sempurna….subhanallah…

  9. intinya sih setiap perbuatan pasti ada balasannya, entah itu perbuatan baik atau buruk. :mrgreen:

  10. sebelum kita menilai – apalagi – memvonis (meskipun itu cuma dalam hati) sebaiknya kita harus berempati dulu terhadap dia. sterilkan hati dan pikiran dan cobalah untuk berpikir, kenapa sampai dia melakukan itu. akan banyak kemungkinan yg bisa terjadi. salah satu dari kemungkinan itu adalah alasan dia melakukan itu. setelah itu tanyakan pada hati kita sendiri kemungkinan yg mana yg akan kita pilih jika kita berada dalam posisinya pada saat itu. yang pasti : kita belum tentu lebih baik dan lebih mulia dari dia ….. ingat ‘ada banyak kemungkinan’.

    tanpa bermaksud membenarkan atau menyalahkan, saya bisa mengerti dan memahami nasib teman Bapak. yang saya tidak mengerti kenapa justru ‘mereka’ – yg jauh lebih pintar dari saya – tidak bisa mengerti… ataukah mereka hanya ….. ah… saya cuma mau belajar menjadi seorang pygmalion.

    sampaikan salam saya buat teman Bapak, katakan padanya untuk tidak harus ‘kasak-kusuk’ mencari pegangan karena Tuhan mungkin sudah hadir dalam hatinya… dan DIA hanya sejauh do’a…!!!

  11. Allah mahaadil. Kelak di akhirat, keadilan sejati akan tegak.

  12. Bener Kata Mas Keadilan Yang Seadil2nya Adalah Nanti Di Hari Akhir Sama Allah SWT

  13. benar bung danalingga,pahala imbalannya jika berbuat baik;sebaliknya jika berbuat dhalim…

  14. trims mas chaya atas masukannya yang bermakna;insya Allah salam anda disampaikan ke ybs…

  15. mas shodiq n ryev4; sependapat keadilan yang sejati dan abadi…di akhirat…

  16. kecewa juga ternyata pak rokhmin positif korupsi, lebih kecewa lagi pelaku korupsi² yang lainnya belum tertangkap.

  17. mas roffi,ya prihatin…namun kita lihat saja nanti hasil naik banding dan bahkan kasasi di mahkamah agung…

  18. Moral adalah hal yang terpenting dalam hidup. Berani katakan benar walau kenyataannya pahit.

  19. ya bung Lafhaddin…….satunya kata dengan perbuatan….tentunya yang bermoral…..


Beri tanggapan

Your response:

Kategori