Oleh: sjafri mangkuprawira | Juni 28, 2007

JANGAN CEMAS TERHADAP PERUBAHAN

 

           Dalam hidup dan kehidupan tak ada yang tetap. Kita semua pasti berubah dan ingin bertahan hidup. Begitu pula dalam dunia bisnis. Manajemen puncak (CEO) suatu perusahaan harus menyadari bahwa perubahan adalah suatu fenomena alami. Esensinya bahwa perubahan itu sesuatu yang fitrah namun perlu dipandang secara bijak. Dia  harus mempertanyakan pada dirinya sendiri apakah pola pikir yang sekarang dipakai masih dianggap relevan. Ataukah ketika  menegok ke dunia bisnis di luar yang begitu luas,  dia menilai pola pikirnya ternyata sudah memasuki wilayah darurat karena sudah begitu usangnya? Apakah dia terdorong meninggalkan keasyikan hidup mapan demi ketidakasyikan karena dihadapkan pada mendesaknya keperluan perubahan bisnisnya? Untuk itu seberapa jauh kepekaannya terhadap perubahan?

Perusahaan  yang tidak memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan akan semakin terpinggirkan karena tidak mampu menghadapi persaingan bisnis yang ketat. Lebih parah lagi mereka akan ditinggal para pelanggannya. Mengapa demikian? Ada beberapa hal penyebabnya.

Pertama,  hidup dan kehidupan bisnis penuh dengan ciri turbulensi.  Daya tanggap, kepekaan dan pengetahuan rendah dari CEO tentang akibat turbulensi akan mengancam perusahaan.

Kedua, perusahaan kurang bahkan tidak mengembangkan sikap terbuka akan perubahan. Semua komponen perusahaan yakni  staf dan karyawan tidak diajak bicara tentang alasan strategis dari perubahan. Padahal perubahan yang dilakukan perlu diawali dengan  menyamakan visi pribadi dengan kebutuhan perusahaan. Dengan kata lain itu diperlukan untuk mencegah resistensi staf dan karyawan atas perubahan. 

Ketiga, walaupun dilakukan perubahan hanya dilakukan pada satu bidang saja. Padahal perubahan merupakan sistem yang total. Selain itu karena dimensi permasalahan  begitu kompleksnya.

Keempat, kalaupun ada perubahan  tapi itu dilakukan secara tambal sulam; tidak terencana dengan baik. Cepat berpuas diri. Padahal  perubahan tak pernah mengenal kata selesai.            

Bill Gates, pendiri dan pemimpin Microsoft, mengatakan ”siapapun yang tidak mau berubah akan dijungkir-balikkan karena memang demikianlah aturan dunia ini” (Indra Ismawan, Spirit of Change, 2005). Kemudian Jack Welch, CEO General Electric, menambahkan ”Our lives depend on CHANGE”. Dia mengatakan “saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada dunia; yang saya tahu adalah dunia akan berbeda sama sekali dengan keadaan saat ini. Dunia akan berjalan lebih cepat”. Dalam hal inilah setiap perusahaan harus memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan. CEO harus memiliki sikap positif terhadap perubahan dan melakukan antisipasi  secara sistemik. Artinya suatu perubahan perlu dikelola. Tujuannya adalah dalam kerangka menciptakan nilai baru.yang berkelanjutan dengan manajemen yang efisien.                

Dengan manajemen perubahan yang terencana dengan baik perusahaan diharapkan mampu menentukan kecenderungan, memimpin perubahan, dan bahkan menguasai masa depan. Untuk melakukan perubahan, perusahaan tidak harus menunggu masalah atau menunggu datangnya krisis lebih dahulu. Perubahan atau perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta otomotif belakangan ini telah membuktikan hal itu. Produk-produk mutakhir seperti komputer, televisi layar lebar, multimedia, kamera digital, dan ponsel serta kendaraan modern akan terus berkembang tanpa henti menuju ke tingkatan yang semakin tinggi lagi. Semuanya merupakan fungsi dari faktor-faktor gagasan cemerlang, kebutuhan pasar, kemampuan adopsi, efektivitas implementasi dan pengelolaan sumberdaya.

            Disinilah diperlukan pengembangan sumberdaya manusia (SDM). Perlu diciptakan bagaimana setiap komponen internal yang terlibat dalam bisnis memandang  perubahan adalah suatu keharusan. Untuk itu perlu ada perubahan pola pikir para karyawannya. George Bernard Shaw, sastrawan terkemuka, mengatakan “kemajuan tak mungkin terjadi tanpa perubahan, dan mereka yang tidak mau mengubah pemikirannya, tidak bisa mengubah apapun”. Intinya bagaimana suatu sikap atas  perubahan diciptakan sebagai salah satu bentuk dari budaya perusahaan.

         Dalam tataran operasional dibutuhkan upaya menyamakan visi pribadi dengan kebutuhan perusahaan. Bagaimana pula  perusahaan harus memikirkan konsekuensi dan mencegah resistensi atas suatu perubahan. Jadi  esensinya dari pengembangan SDM adalah menciptakan sikap realistis, daya nalar, keinginan-tahuan, daya cipta  dan daya inisiasi di kalangan karyawan. Harapannya adalah perusahaan akan mampu meraih dan mempertahankan momentum setiap perubahan lewat pengintegrasian semua elemen  program perubahan.

        CEO harus mampu mengkonsolidasi seluruh staf dan karyawan agar perusahaan tetap memiliki keandalan  kompetitif dan terus tumbuh. Dia harus merangkul mereka yang menentang perubahan menjadi unsur efektif perubahan itu sendiri. CEO harus meyakinkan semua karyawan bahwa perubahan hakekatnya adalah sebagai kesempatan. Karena itu dia perlu merangsang para karyawannya dengan ide-ide baru dan hasrat untuk maju. Dengan kata lain perlu ditumbuhkan dinamika kelompok. Henry Ford, pendiri Ford Motor Company, menyebutkan “apabila kita takut gagal, itu berarti kita telah membatasi kemampuan kita”. Suatu ketika perubahan akan dipandang sebagai fenomena yang menyenangkan para karyawannya. Perubahan benar-benar menjadi kebutuhannya.           

        Program perubahan yang sudah selesai pada kurun waktu tertentu bukan berarti berakhirnya proses perubahan. Karena itu perlu dilakukan evaluasi terus menerus. CEO harus selalu mempelajari dari beragam sudut perubahan yakni aspek internal, eksternal, proses, dan hasil (Robert Heller, Managing Change, 2002). Dari sisi internal; apakah perusahaan telah melaksanakan perubahan  sesuai dengan perencanaan? Apakah sistem pelayanan, jalur distribusi, produktifitas, dan pemasaran sudah berjalan optimum? Bagaimana dengan sikap para karyawannya? Dari sudut eksternal; sejauh mana para pelanggan sudah puas? Apakah pengembangan mutu produk telah meningkatkan volume penjualan? Apakah terjadi perkembangan pasar, ilmu dan pengetahuan serta teknologi baru? Dari segi proses; apakah volume  produk dengan mutu tertentu sudah sesuai rencana dan permintaan pasar? Bagaimana dengan efisiensi waktu dan tenaga kerja? Apakah proses inovasi terjadi?. Kemudian dari sisi hasil; bagaimana dengan pengembangan segmen pasar? Apakah terjadi peningkatkan pangsa pasar? Bagaimana hubungan peningkatan penjualan dengan kemampu-labaan?.

         Diharapkan melalui evaluasi berkelanjutan, perusahaan akan mampu menghindari rasa puas diri dan selalu bersikap realistis dan kritis. Secara dinamis, perusahaan akan mampu memodifikasi setiap perubahan eksternal, yang bisa jadi sebagai ancaman, dengan membangun lingkungan produktif-efisien. ”Hope is brightest when it drawn from fears”, demikian ungkap Sir Walter Scott, sang penyair dunia.      


Tanggapan

  1. Prof Sjafri,

    Realitas tentang perubahan ialah bahwa, karena kita tidak pernah yakin bahwa perubahan hidup kita adalah untuk sesuatu yang lebih baik, tidak seorang pun menyukai perubahan. Kestabilan dan kebiasaan adalah wilayah-wilayah yang aman bagi kita. Namun, perubahan untuk sesuatu yang lebih baik kadang-kadang kelihatan samar atau malah tidak terlihat sama sekali.

    Lewat perubahan, orang berkembang. Pelajaran paling penting yang harus diambil adalah MENGHORMATI PERUBAHAN. Lewat perubahan, kemungkinan-kemungkinan-baru akan terbuka. Kita menghormati perubahan dengan MENERIMANYA. Kerelaan mencari jalan perubahan akan membawa hasil yang bermanfaat.

    Pada suatu malam tak berangin, nyala lilin berkelap-kelip, ia membesar dan mengecil dengan selalu berubah-ubah. Inilah hakekat benda-benda dunia ini. Di dunia ini tidak ada yang abadi, satu-satunya yang abadi adalah perubahan, yaitu adanya ketidak-abadian.

    Waktu berjalan seirama dengan perubahan. Dalam waktu, segala sesuatu harus berubah. Kita harus belajar mengubah kehendak bebas kita sendiri dan jangan takut kehilangan pribadi kita yang lama; Ikutilah dunia baru yang belum dikenal itu. Perubahan itu adalah ibunya pertumbuhan dan perkembangan serta keberhasilan.

    Namun demikian, perubahan sebesar apa pun lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Kita sering lebih suka bermain di wilayah penderitaan yang sudah kita kenal ketimbang di wilayah metamorfosis yang belum kita kenal. Setiap hari, cara berpikir, cara bertindak, dan cara kita merasakan, akan membentuk kontur hidup kita. Kita harus mempunyai komitmen untuk menghormati perubahan; dan transformasi secara alamiah akan terjadi dengan sendirinya. Manusia berharap mereka dan hidupnya akan benar-benar tetap sama. Mereka tidak ingin Tuhan mengguncang perahu rutinitas harian mereka, namun dengan ajaib mengharapkan rahmat dan kemakmuran jatuh begitu saja ke dalam kehidupan mereka.

    Salam,
    Iyung Pahan
    http://iyungpahan.blogspot.com

  2. Terimakasih bung Iyung atas tambahan informasinya.
    Realitas suatu industri memang menunjukkan tak pernah diam. Inovasi terus tumbuh, operasional berkembang, pasar meluas, dan pemain bisnis datang dan pergi.Di sisi lain setiap pemain tak menunjukkan rasa puas.Seolah kepuasannya tanpa batas, tidak tinggal diam dan cuma bengong saja. Dia mencari dan terus mencari sesuatu yang baru. Intinya karena dia ingin membuat perubahan untuk membangun suatu masa depan. Namun dapatkah untuk kesana tanpa harus seperti permainan sepak bola kasar dengan menyikut atau menendang pelaku lainnya?.
    Salam perubahan

  3. ada perbedaan antara inovasi dan kreatif..
    inovasi adalah membuat sesautu yang baru terhadap sistem, ini efektif untuk daily management (here n now)
    tetapi kreatif adalah perubahan dengan memunculkan ide baru/sistem baru, yang berorientasi masa depan..
    lihat persuahaan2 terkemuka di dunia, tidak hanya berinovasi tapi juga berkreasi secara ekstrim lihat saja nokia, microsoft. matsusita, honda, toyota..

    Jadi.. jangan tekut/menghindar akan adanya aperubahan, malah harus nya sebagai sdm yang unggul dapat melakukan perubahan.. tidak terbelenggu oleh keberhasilan masa lalu.. atau dogma2 pemimpin yang lalu..

  4. ya bung herry,seharusnya orang yang berpikiran maju tidak menjauhi tantangan ….dan perubahan itu sudah menjadi kebutuhan….kalau tidak justru kita akan ditinggalkan oleh perubahan…
    salam perubahan


Beri tanggapan

Your response:

Kategori