Dalam dunia bisnis yang berubah cepat, perusahaan harus mampu mengadaptasi ekses setiap perubahan atau resiko dari kegagalan yang mungkin muncul. Namun yang terjadi, reaksi pertama terhadap perubahan yang ada biasanya dalam bentuk resistensi. Disisi lain boleh jadi para individu mengekspresikan kepeduliannya melalui perubahan kebiasaan, norma dan cara-cara mengerjakan sesuatu.
Dalam perusahaan, kemampuan akan berubah mungkin meningkat dengan menggunakan MSDM secara benar dan tepat. Sebagai contoh, perusahaan yang berkepentingan untuk menjadi lebih adaptif terhadap tekanan-tekanan lingkungan dan perubahan seharusnya menggunakan orang yang luwes dan mampu mengembangkan potensinya. Tujuannya agar yang bersangkutan menyadari bahwa perubahan adalah sesuatu yang penting sebagai bagian dari pertumbuhan perusahaan.
Lebih jauh, perusahaan seharusnya merumuskan standar yang fleksibel dan bervariasi dalam hal pendekatan perubahan dan pemberian penghargaan kepada karyawan yang inovatif. Selain itu perusahaan harus juga mendengarkan kritik para pelanggan untuk bahan penyusunan perubahan yang dikehendaki para pelanggan. Umumnya suatu perusahaan, dalam kondisi persaingan tinggi, dengan kemampuan perubahan yang besar akan sangat mungkin memuaskan, bertahan dan memberi daya tarik kepada para pelanggan.
Namun keberhasilan suatu perubahan membutuhkan waktu yang tidak pendek. Sebagai contoh, sekitar tahun 70an, industri otomotif untuk menghasilkan kendaraan model baru membutuhkan waktu tujuh tahun dimulai dari konsep baru. Ford ketika memperkenalkan mobil baru Taurus/Sable hanya menghabiskan waktu 3,5 tahun karena perusahaan menyelenggarakan pelatihan bagi para karyawannya. Waktu yang lebih singkat itu merupakan hasil dari keterlibatan para tim pemasok bahan baku, ahli mesin, pabrik, distributor, pekerja perakitan dan pelanggan secara terpadu.
Jadi hasil gemilang itu merupakan perpaduan antara kelompok-kelompok tersebut dengan perubahan yang terjadi dalam MSDM seperti dalam pelatihan, penyusunan pegawai, komunikasi dan sistem imbalan. Semuanya ini memberi manfaat bagi Ford dalam bentuk peningkatan keuntungan dan kinerja perusahaan.













Prof, sebenarnya apakah setiap perubahan (inovatif) selalu mendatangkan keunggulan? Atau perubahan inovatif yang berdasarkan apa yang mendatangkan keunggulan? Apakah perubahan yg responsif dengan pasar? Apakah perubahan yang semata-mata berdasarkan peningkatan kualitas internal SDM-nya? Atau gabungan dari berbagai macam faktor? Sebab kita lihat dalam sejarah banyak perubahan inovatif yang diterjemahkan dalam bentuk produk inovatif juga gagal. Di AS, Pepsi Co. pernah me-release ‘Crystal Pepsi’ dengan formula baru untuk menjawab ‘New Coke’ dari Coca Cola, tapi di pasaran hancur total! (Lucunya New Coke juga tidak begitu sukses di pasaran walaupun terus diproduksi dng nama Coca Cola II). Di Indonesiapun, Coca Cola pernah meluncurkan Hi-C, teh dalam botol dengan embel-embel teh yang kaya vitamin-C, untuk menjawab tantangan Sosro dengan Teh Botolnya, namun hasilnya sangat mengecewakan! Eastman Kodak Co., tahun 1980an pernah meluncurkan film Disc yang diproyeksikan akan mengganti film roll yang tradisional dan ‘merepotkan’ yang menurut beberapa pengamat produk tersebut sangat inovatif. Namun produk tersebut hancur di pasaran sebelum tahun 1990! Dan banyak lagi contoh-contoh lainnya. Tentu perusahaan-perusahaan besar seperti di atas mempunyai SDM yang sangat baik, inovatif dan dinamis tapi toh.. setelah diterjemahkan dalam bentuk angka penjualan, inovasi-inovasi produk tersebut (yg tentu saja memerlukan investasi yang besar) gagal total.
Lantas, inovasi berdasarkan apa yang KIRA-KIRA terbaik untuk menghadapi pasar yg dinamis ini? Terima kasih sebelumnya Prof!
Oleh: Yari NK on Juni 29, 2007
at 1:27 am
Prof. Sjafri,
Sejak Prof memberikan pencerahan tentang “kecerdasan emosi”, saya selalu berfikir bahwa kunci dari semua persoalan organisasi adalah pada seberapa “cerdas” emosi dari para pelaku organisasi.
Demikian pula dalam konteks menghadapi perubahan organisasi, semakin cerdas emosi seseorang, maka semakin fleksibel pula dia akan mengakomodasi perubahan yang terjadi. Oleh karenanya, dorongan terhadap implementasi perubahan sebenarnya adalah dorongan kepada pelaku organisasi untuk menjadi semakin cerdas emosi, sehingga bersedia melakukan perubahan.
Salam,
M. Efendi Arianto
Oleh: M. Efendi Arianto on Juni 29, 2007
at 4:16 am
Terimakasih bung Yari NK atas ulasan anda yang kritis. Kalau kita pernah baca buku karangan W.Chan Kim dan Renee Mauborgne dengan judul Blue Ocean Strategy,disitu ditekankan bagaimana langkah strategis yang cerdas perlu menciptakan ruang pasar yang belum ada pesaingnya. Lebih hebatnya strategi dimaksud berfokus pada menumbuhkan permintaan dan menjauh dari kompetisi. Strategi ini menghindari terjadinya persaingan yang “berdarah-darah”.
Nah menurut mereka, setiap perusahaan harus memiliki inovasi nilai. Inovasi ini tidak berorientasi pada memenangi kompeteisi namun dengan menciptakan nilai bagi pembeli dan perusahaan.Membuka ruang pasar yang baru tanpa pesaing. Jadi inovasi nilai menempatkan adanya kesetaraan antara variabel nilai dan inovasi. Artinya,nilai tanpa inovasi cenderung berfokus pada penciptaan nilai dalam skala besar,sesuatu yang meningkatkan nilai tetapi tidak memadai untuk membuat perusahaan unggul secara menonjol di pasar. Sementara inovasi tanpa nilai cenderung bersifat mengandalkan teknologi,pelopor pasar atau futuristis,dan sering membidik sesuatu yang belum siap diterima dan dikonsumsi pembeli.
Salam inovasi nilai
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 29, 2007
at 8:55 am
Terimakasih. Benar, Mas Efendi. Ada satu komponen penting bahkan tetap dijalankan dalam dunia manajemen modern yakni intuisi bisnis.
Saya mengutip suatu pernyataan dari online Purdi E Chandra (Juni 2002) bahwa pertimbangan intuisi lebih peka dari pertimbangan rasional, maka kita jangan ragu untuk menggunakan intuisi dalam bisnis. Selanjutnya menurut Quinn Spitser dan Ron Evans, intuisi adalah analisis kilat dari fakta dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman sebagai filter. Dalam bisnis, memang dikenal adanya intuisi bisnis. Di dalamnya ada wawasan, pengalaman, mental, dan perasaan. Bagi mereka yang memiliki intuisi bisnis yang tajam, maka dia tidak hanya mampu mengandalkan perasaan, tapi ada juga wawasan yang luas, pengalaman banyak, dan mental yang dalam. Intuisi ada empat tingkatan, yaitu bisa muncul melalui fisik, emosi, mental, dan spiritual.
Salam berintuisi
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 29, 2007
at 9:10 am
[...] dalam blog Prof. Tb. Sjafri Mangkuprawira, di salah satu komentar dalam artikelnya saya sudah menyinggung sedikit tentang persaingan sengit [...]
Oleh: New Coke vs Crystal Pepsi « Spektrum Pemikiranku on Juli 2, 2007
at 1:05 pm
Terimakasih bung Yari NK.Saya sudah baca isi blog anda tentang New Coke vs Crystal Pepsi.Suatu ilustrasi yang relevan betapa antara kemampuan untuk berubah dengan derajat kemampuan bersaing di pasar tidak selalu konsisten.Tak sederhana memang. Artinya kaidah dan langkah-langkah perubahan yang dinilai perusahaan sudah layak namun ternyata belakangan pasar meminta hal yang lain.
Salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juli 2, 2007
at 1:52 pm
Maaf prof Sjafri, sebenarnya itu artikel tidak saya maksudkan untuk menyambung komentar dari masalah ini, tapi itu semata-mata kesalahan teknis. Saya hanya ingin menghubungkan artikel saya itu dengan artikel prof dan komentar saya, tanpa bermaksud untuk menambahkan komentar. Saya baru sadar bahwa artikel saya ternyata di ‘autofeeding’ ke kolom komentar ini oleh WordPress. Tetapi sekarang saya sudah mengetahui secara teknis mengapa hal tersebut bisa terjadi. Maklum saya masih terbilang baru dalam dunia blogging dan juga dengan wordpress ini. Terima kasih sebelumnya Prof.
Oleh: Yari NK on Juli 3, 2007
at 2:20 am
Bung yari NK,ngga masalah.Saya pun baru berBLOG ria sejak sembilan minggu lalu.Sama-sama belajar.
Salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juli 3, 2007
at 7:17 am