Beberapa waktu lalu secara serentak di tingkat nasional diumumkan kelulusan siswa-siswa SMA dan yang sederajad. Ada yang gembira dan ada juga yang sedih tentunya. Seorang siswa perempuan menangis tersedu sedan. Sedih tak lulus ujian nasional (UN). Padahal katanya, rapor kemajuan studinya sejak di semester pertama sampai akhir bagus semua. Lalu bagaimana dengan sudut kecerdasan emosional dan spiritualnya?
Nah yang satu ini masih memprihatinkan. Tawuran antarpelajar sudah tidak asing lagi. Lalu ketika mereka dinyatakan lulus sebagai luapan kegembiraan ditandai dengan semprotan baju dan kepala dengan piloks. Padahal baju itu kan bisa disumbangkan kepada mereka yang tidak mampu. Belum lagi dengan rame-rame ke jalan raya dengan motor bersuara meraung dan kebut-kebutan. Tidak peduli dengan ketertiban lingkungan. Bukannya bersujud syukur pada Allah, malah berpesta ria tanpa mengindahkan norma sosial.
Selain itu, kecerdasan intelektual sekaligus mutu yang hanya dilihat dari angka UN belum menjamin apa-apa. Apalagi hanya melihat tren perbedaan dalam satu tahun. Mengapa? Karena harus dibuktikan dahulu faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Apakah misalnya keunggulan seorang siswa hanya diukur dari nilai tiga mata ajaran (Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) yang diuji selama dua jam? Tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran selama enam semester? Apakah derajad kesulitan dan format soalnya relatif semakin mudah? Apakah intensitas belajar dari para siswa memang semakin tinggi dan berkualitas? Apakah proses pembelajaran, khususnya faktor guru dan fasilitas di sekolah semakin bermutu? Apakah kenaikan standar kelulusan berkorelasi positif dengan jumlah relatif siswa yang lulus? Berapa banyak yang diterima ketika mereka melamar masuk ke perguruan tinggi, khususnya ke perguruan tinggi negeri unggulan. Berapa persen dari mereka pada tingkat kelulusan yang sama (misalnya standar baik) dibanding dengan yang lebih rendah (standar cukup) diterima di PT melalui test tertentu? Kemudian secara agregat berapa persen mereka yang lulus bisa melanjutkan kuliah dan atau bekerja?
Semua itu merupakan bahan kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas dan juga Badan Standar Nasional Pendidikan untuk menyimpulkan apakah proses dan hasil pembelajaran di SMA sudah semakin bermutu. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad (al-Mujaadilah; 11).













bangsa kita malas mengkaji… kalopun ada hasil kajian kadang dianggap sinis gara2 tidak sesuai dengan “biasanya”..
miris banget
Oleh: arul on Juni 25, 2007
at 7:34 pm
Ya ada benarnya mas arul. Bahkan pada setiap hasil penelitian atau kajian pesanan instansi pemerintah biasanya selalu diakhiri dengan rekomendasi:PERLU PENELITIAN/KAJIAN LEBIH LANJUT. Kemudian setelah penelitian lanjutan dilakukan maka diakhiri dengan rekomendasi
ERLU KAJIAN LEBIH DALAM LAGI dst dst…Nah,karena bersifat pesanan maka hasil penelitian berikutnya bisa jadi menyimpulkan : PENYELENGGARAAN UN TELAH SESUAI DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH.
salam kajian…
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 25, 2007
at 10:35 pm
Wah, kalau setiap peneliti dan ilmuwan bisa dipesan ya susah, gimana mau maju pendidikan kita. Sebagai info tambahan pemerintah telah kalah dalam gugatan UN di PN Jakarta Pusat (CMIIW).
Oleh: anggara on Juni 26, 2007
at 3:16 am
Ya mas Anggara,
Kenyataannya seperti itu.Saya cukup banyak pengalaman tentang hal itu.Kebanyakan bukan riset di bidang pendidikan.Mereka (klien) tidak segan-segan berlaku seperti itu.Jelas saja saya tolak.Memang kesempatan mendapat proyek lalu berkurang.Namun saya yakin Allah tak akan menutup rezeki seseorang.Salam kebajikan.
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 26, 2007
at 8:12 am
Assalamu alaikum Prof Sjafri,
Pak Jusuf Kalla, dalam beberapa media, menyampaikan bahwa UN penting untuk standar mutu SDM kita. Menurut saya, jangan-jangan beliau, atau para pengambil kebijakan UN, atau bahkan kita sendiri, telah membuat kesalahan dalam cara berpikir dan memaknai kata “standar mutu SDM”.
Kasus UN ini dapat membelokkan orientasi PENDIDIKAN ke arah yang cenderung MATERIALISTIS, semuanya untuk NILAI, semuanya untuk UN, seolah-olah hidup hanya sekedar itu.
Berkaitan dengan ini, dalam benak saya, ada pertanyaan besar yang harus dikaji bersama-sama:
Spirit PENDIDIKAN itu terletak pada PROSES atau HASIL?
Jika pendidikan itu PROSES, apakah relevan untuk menerapkan STANDAR. Bukankah ketika kita bicara STANDAR–seragam lagi–artinya kita hanya berorientasi pada HASIL? Belum lagi bicara apakah STANDAR itu merepresentasikan kualitas PROSES yang ada di sekolah?
Jika pendidikan itu HASIL, dan hasil itu diidentikkan dengan nilai yang tinggi pada UN, maka perlu perombakan total dalam disain kurikulum kita, sehingga semua proses yang ada di sekolah efektif untuk menghasilkan lulusan dengan nilai UN yang memuaskan. Jika itu yang terjadi, yang ada di sekolah hanyalah PENGAJARAN, dan dengan demikian sekolah telah melepaskan perannya sebagai lembaga PENDIDIKAN. Apakah ini yang kita mau?
Selanjutnya, barangkali kita harus membedakan secara clear, pemaknaan antara Standar Kelulusan, Standar Mutu, Standar Kompetensi. Menurut saya, kasus ini menunjukkan, adanya pemaknaan yang, kalau kata orang Sunda mah, “pabaliut, pasolengkrah”.
Wass
dicky
Oleh: Dicky Firmansyah on Juni 30, 2007
at 4:00 am
Waalaikum salam ww,
Terimakasih atas ulasan bung Dicky yang begitu mendasar dan tajam. Saya sependapat dengan anda. Bagaimana dengan komentar para sahabat lainnya? Silakan untuk menanggapinya.
Salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 30, 2007
at 4:48 am
Wah… kalau saya sih bukan ahli pendidikan, kalau ikut kasih komentar mungkin nanti kurang bermutu, tapi nggak apa2 lah pede aja lagi…..hehehe….
Menurut saya memang betul…. proses lebih ‘penting’ dibandingkan dengan hasil… namun kita segyogianya juga tidak menutup mata bahwa sedikit banyak HASIL adalah buah dari PROSES itu sendiri, walaupun HASIL bukan 100% cerminan sebuah PROSES. Memang untuk mendapatkan sebuah proses yang baik kita sebaiknya tak melulu menyalahkan sistem pendidikan yang ada (walaupun saya akui sistem pendidikan kita terutama yang menyangkut masalah UAS ini jauh dari memuaskan), namun itu juga semua terpulang pada kesadaran individu sendiri untuk selalu ingin mencapai yang maksimal. Kalau misalnya titik berat hanya tergantung pada proses mungkin nanti dapat disalahgunakan oleh ‘orang-orang yang malas’ untuk tidak berupaya maksimal untuk mencapai hasil yang terbaik, dan juga tidak adil bagi mereka yang sudah mendapatkan hasil yang baik. Ingat kita juga pernah meraih medali emas di olimpiade Fisika di Singapura beberapa waktu yg lalu (malah 4 orang waktu itu kalau nggak salah, seorang di antaranya malah dinyatakan sebagai ‘The Absolute Winner’!). Bandingkan dengan Australia!, yang hanya mendapatkan 1 emas, itupun dihasilkan oleh kontingen Australia ‘imporan’ dari Asia. Australia yang bule-bule kalah semua! (Hush!…. rasis ah!…hehehe) Ini sedikit banyak menandakan bahwa sebenarnya kalau mau kita bisa dengan sistem pendidikan yang ada sekarang.
Menurut saya UN ya tidak ada salahnya, namun tentu harus mencari format yang lebih baik (bentuk soalnya, apakah cuma 3 mata pelajaran tersebut, dsb.). Dan juga tentu saja seharusnya bobot UN diturunkan dalam menilai kriteria kelulusan, alias UN seharusnya bukan nilai mati yang menentukan lulus tidaknya seorang murid.
Ya udah segitu saja saran dan kritik dari saya. Wah saran dan kritik dari saya. Kalau kurang berbobot dan berbau cliché mohon dimaafkan!
Oleh: Yari NK on Juli 1, 2007
at 12:43 am
Terimakasih bung Yari NK atas komentar anda yang bagus.
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juli 1, 2007
at 1:28 am
menurut saya terlepas dari pro dan kontranya kalangan akademisi, Politisi dan birokrasi, ada posistif dan negatifnya UN dilaksanakan
positifnya :
1. Un bisa kita lihat keterukurana kurikulum dan koptensi guru
2. Un bisa memotivasi sioswa guru dan kepada sekolah untuk lebih meningkatkan sdmnya
negatifnya UN
1. terjadinya deskreminasi pelajaran
2. terjadinya disintegrasi mata pelajaran
3. guru siswa dan kepla sekolah terlalu mementingkan 3 mata pelajaran dan tidak memerlukan pelajaran lain untuk menciptakan manusai yang utuh
4 tidak sesuai dengan tujuan pendidikan secara nasional dan falsafah negara
Oleh: syamsurizal on Juli 5, 2007
at 3:41 pm
terimakasih atas pendapat anda, bung syamsurizal.salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juli 5, 2007
at 10:41 pm
Pak Sjafri,
saya pun turut prihatin dengan UAN ini, jaman saya dulu “pasti lulus semua”, dan masih pakai model penjurusan A1, A2, A3, dan A4…Ketika itu kelulusan ditentukan sekolah. Namun harus diakui pula, semangat berjuangnya relatif rendah, karena asumsi pasti lulus.
Sekarang, dengan UAN, dan ada standard kelulusan, akhirnya siswa tadi menjadi perlu berpikir keras. Pilihannya cuman 2, lulus, atau tidak lulus. Ini akhirnya menjadi pilihan yang berat untuk mereka yang masih remaja. Ada yang terpaksa memakai ilmu “pasrah bin asal berserah”, dan ada pula yang pakai ilmu belajar SKS – sistem kebut semalam”, dan masih banyak lagi ilmu yang entah dari padepokan mana…
Ini adalah sisi positifnya UAN, dan untuk poin ini saya setuju. Menjadikan suatu standard kelulusan dan memacu daya juang pelajar SMA untuk berkompetisi lulus. Sekali lagi, tujuan ini saya dukung penuh, kita perlu kompetisi, kita perlu ujian, kita perlu membuktikan bahwa kita bisa.
Hanya saja, masalahnya timbul ketika distribusi kualitasnya tidak merata. Sekolah A yang di kota jakarta, fasilitas mewah, gedung bertingkat, dan sekolah B di pinggiran jakarta, yang paginya adalah SD Inpres “Hampir Runtuh”, siangnya jadi SMP “Nyaris Bubar”, dan SMA “miskin murid”, dan malamnya menjadi ruang kuliah untuk Sekolah Tinggi Tanpa Akreditasi, bagaimana bisa diharapkan kualitasnya sebanding dengan yang di kota? Bagaimana bisa kita mengharapkan output yang sama, sementara perlakuannya saja berbeda…Saya rasa, tidak perlu riset ini itu, secara intuisi saja sudah bisa kita susun formula hipotesis yang terstruktur dan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Atau, kita ambil lagi contoh nyata, Si “M” yang adalah artis beken baru saja lulus SMU dengan nilai yang cukup memuaskan, sementara Si P, kita namakan saja si prihatin, harus berjuang melawan dinginnya pagi menjual koran, siang sekolah, malam ngamen, begitu selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, gagal lulus ujian akhir. Si “M” bisa lulus karena didukung kondisi yang “ideal”, guru yang siap mengajar, fasilitas buku dan komputer yang up to date, review soal-soal ujian setiap hari dari guru2 terkait, sementara si prihatin hanya bisa belajar selama 6-7 jam, itu pun tidak bisa diharapkan kualitas outputnya; sementara si prihatin didukung oleh kondisi “realita”.
Pemerintah hendaknya sadar, sebaran sekolah dan kualitasnya masih sangat terlalu tinggi, atau istilah statistika-nya ragamnya terlalu besar. Perlu kehati-hatian dalam menentukan masa depan anak-anak bangsa ini, tidak bisa dengan sistem trial-error yang tidak jelas dasarnya.
Kalau begitu, apa kira-kira solusinya? saya mengusulkan 2 alternatif, dengan tetap mendukung ujian nasional.
1. Penentuan kelulusan ditentukan secara berbobot, misalnya 40 % dari hasil UAN, dan 60% dari hasil evaluasi sekolah (evaluasi ujian dan penilaian selama 3 tahun disekolah). Tapi, semuanya harus tetap dilaksanakan. Bisa saja kalau si anak mengerti ilmu peluang, dia akan membuang saja UAN, dan ikut evaluasi sekolah, karena peluangnya untuk lulus adalah 0.6 (mungkin dia punya prestasi tertentu yang bagus, dan mungkin berperilaku baik disekolahnya).
2. Tetap seperti sekarang, namun bagi mereka yang tidak lulus, segera diatur waktunya untuk ujian ulangan.
Saya setuju dengan pendapat Pak wapres JK, 60th kita merdeka, kok yang nilai rata-ratanya 3.00 bisa lulus di sekolah? Tapi, melihat permasalahan ini tidak bisa dari satu titik saja, banyak sudut pandang yang harus kita lihat dan sikapi.
Saya tergelitik dengan ucapan alm. Pak Andi Hakim sewaktu saya masih kuliah dulu, “kalau kamu benci sama seseorang, jangan hujat dia, tapi doakanlah dia agar menjadi Menteri Pendidikan Nasional!”, karena tanggung jawabnya yang cukup berat dan morat-maritnya pendidikan di Indonesia.
Bagaimana dengan bintang2 Indonesia yang meraih medali di olimpiade dunia? Kita harus ingat, mereka adalah hasil saringan dari serangkaian proses, dan yang ikut dalam saringannya pun sudah tersaring sedemikian rupa dari hasil seleksi seragam (perlakuannya sama), artinya kita ambil anak-anak dari yang the best of the best, dan ini memakan waktu. Mereka ibaratnya kerikil-kerikil indah yang terambil dari dalam lumpur, dan ternyata itu bukan kerikil, melainkan intan. Intan tadi diolah sedemikan rupa oleh seniman dan menjadi hasil yang memuaskan.
Menurut Teguh Juwarno, staf ahli Mendiknas, angka tawuran di Jakarta menurun, hal ini karena adanya UAN, tapi sayangnya ini bias, artinya selama april-mei saja turunnya, setelah itu kembali lagi ke “keadaan normal”, alias bisa kita lihat kejadian magis batu dan kayu terbang…
Impian saya adalah melihat mereka yang sekolah, datang ke sekolah, dengan senyum, dan semangat belajar yang tinggi, dan tidak pernah takut sama ujian…Saya pinjam istilah di satu iklan “Siapa takut dengan UAN???”
Salam, Pak Sjafri, maaf kepanjangan.
Edwin
Oleh: Edwin on Agustus 12, 2007
at 7:59 pm
terimakasih bung edwin atas ulasannya yang sangat bagus….belum lagi kalau mutu siswa slta juga terkait dengan proses belajar panjang dari tingkat sd dan sltp yang kualitasnya beragam….salam juang…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 12, 2007
at 9:19 pm
payah
Oleh: maun DTMUI on September 6, 2007
at 7:39 am
Persoalan krusial misi pendidikan yang belum tercapai: mempersiapkan anak-anak berkompeten! Kompetensi diukur dari apa? Kompetensi ala Jakarta samakah dengan kompetensi ala Papua? Anak-anak Indonesia cenderung tercerabut dari akar budayanya sehingga terjebak pada pemikiran pendidikan simplistik seperti yang ditawarkan oleh rezim pendidikan ber-ujian nasional ini. Anak-anak tiba-tiba menjadi asing dengan lingkungan dan masyarakatnya.
Perlu formulasi pendidikan universal untuk mencipta anak-anak agar ber-KOMPETEN!
Ketika suara-suara kecil di sana-sini ini tidak terdengar oleh pencipta rezim pendidikan model Ujian Nasional ini, so what?
Ketika pendekatan sistemik belum berhasil, kita kan perlu solusi sekarang?
Pengalaman pribadi saya: anak-anak saya yang kini sedang berada di SD, saya ajari sendiri (di rumah agar memiliki kompetensi tersendiri, karena saya ragu sekolah mampu mengantar anak saya seperti yang saya harapkan). Biarlah ia bersekolah apa adanya.
Oleh: Wawan E. Kuswandoro on Januari 23, 2008
at 8:04 am
sependapat mas wawan; selain itu secara umum derajad mutu lulusan semua tingkat pendidikan merupakan fungsi dari variabel-variabel metode pembelajaran,kurikulum,fasilitas,mutu pengajar,kualitas input siswa/mahasiswa, dan suasana belajar….dan satu lagi yang menentukan mutu yakni unsur kesejahteraan pengajar…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Januari 23, 2008
at 12:15 pm