Kalau ada diantara kita membutuhkan teman, saya adalah salah satunya. Teman bagi saya adalah sebagai kebutuhan. Ketika ingin mencurahkan hati, saya butuh teman. Ketika butuh informasi juga demikian. Ketika dalam kebahagiaan saya butuh teman untuk berbagi rasa. Dalam kesulitan yang saya alami terkadang saya sampaikan kepada teman. Ketika akan tukar pikiran pun khususnya dalam menggali pendapat tak luput saya perlu teman. Bahkan dengan komunikasi lewat teman, saya sangat menikmati gurau gelak tawa. Sebaliknya ketika teman bersedih hati, saya harus bersimpati, berempati dan mendoakannya.
Sosok seorang teman bisa jadi semakin menarik ketika dimensi pertemanan didefinisikan. Teman bisa diartikan seseorang yang mau mendengar dengan penuh simpati dan empati terhadap lawan komunikasinya. Kemudian di setiap diskusi topik pembicaraan dia mencoba mengomentari. Intinya, teman mampu membangun suasana komunikasi yang hangat dan harmonis. Ada timbal balik. Dalam situasi dimana kalau punya ide si teman mendukung, saya gembira sambil berucap alhamdulillah-terimakasih. Begitu pula dalam situasi kalau punya ide ”ditentang” oleh teman, saya pun tak patut untuk merasa kesal. Mengapa? Karena masih ada seseorang yang masih kritis dan mau mengingatkan saya. Daripada diam seribu bisu dan bahkan apatis atas ide saya. Jadi saya pun berterimakasih dan harus menilai diri mengapa ide saya itu tidak diterima. Lalu mencoba memperbaiki dan menyampaikannya kembali ke teman bersangkutan. Disitu terjadi saling nasehat menasehati di jalan kebenaran dan kesabaran.
Jadi teman sebenarnya merupakan sumber pengetahuan tentang hidup dan kehidupan. Namun demikian bukan sebagai sumber bergantung padanya. Dari pertemanan, saya banyak belajar tentang perilaku manusia dan masyarakat. Apakah itu tentang kejujuran, keadilan, kebahagiaan, kesetiaan, kesedihan, kekerasan, kemunafikan, kehiprokitan, dan bahkan kemungkaran. Karena itu saya sangat bahagia memiliki banyak teman. Pertemanan adalah proses investasi sosial-bathin. Buah dari investasi (return on friendship investment) adalah semakin banyak teman, semakin banyak hikmah buat mengarungi kehidupan.
Pertemanan adalah bentuk silaturahim. Lewat silaturahim usia bathin seseorang akan semakin panjang walaupun dia sudah tiada, dipanggil sang khalik. Karena dia berbudi luhur, orang selalu menyebut namanya dalam jangka lama tanpa ujung. Saya punya kerabat senior (almarhum sejak tujuh tahun lalu), seorang pemuka agama. Sudah sepuh namun tetap kharismatik. Di setiap diskusi dengan beberapa teman yang ada konteksnya dengan latarbelakang almarhum, orang selalu teringat akan kepiawaiannya dan kebijakannya mengungkapkan pendapat terobosan dan menghargai orang lain.
Saya sangat dekat dengan almarhum. Beliau sebagai tempat saya bercurhat berbagai aspek kehidupan khususnya tentang agama. Almarhum pun tidak segan-segan minta bertemu dengan saya untuk membahas berbagai masalah sosial, ekonomi, politik dan bahkan bisnis. Di sisi lain lewat silaturahim pula insya Allah rezki akan semakin bertambah karena banyak akses terbuka untuk memperolehnya. Bisnis akan semakin berkembang karena kita membuka akses pada klien lewat penerapan etika moral bisnis. Semakin sering silaturahim semakin banyak rahmat diperoleh, Insya Allah.
Saya mengutip pendapat Aidh al-Qarni (La Tahzan-Jangan Bersedih, 2005); ketika Anda mendapatkan manfaat dari pertemanan dan merasa bahagia dengan perkawanan maka itu adalah kebahagiaan tersendiri buat Anda.”Dimana orang-orang yang saling mencintai karena kebesaranKu? Hari ini, di hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Ku, Aku naungi mereka dengan naungan-Ku” (Al-Hadist). ”Dan dua orang yang saling mencinta karena Allah berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya”.
Sumber: Sjafri Mangkuprawira,2006, Coretan Seorang Dosen:Rona Wajah, Edisi I, IPB Press.













Assalamualaikum,
Bapak.
Terima kasih atas buku Rona Wajah 2 yang Bapak berikan kepada Kami mahasiswa EPN mata kuliah ESDM 2007.
Saya tertarik untuk memberi komentar tulisan Bapak yang berjudul “Saya Butuh Teman” ini karena teringat kisah Baba dan Dudu.
Kisahnya begini Bapak, suatu hari si Baba sedang berjalan di seputar desanya. Tiba-tiba dia terperosok kedalam sebuah lubang yang dalamnya sekitar 5 meter. Setelah sekian lama berteriak meminta pertolongan dan tidak mendapat jawaban, frustrasilah si Baba. Akhirnya lewat seseorang di atas lubang itu. Ternyata dia dokter di daerah itu. Si Baba berteriak meminta pertolongan ke Pak Dokter itu. Pak Dokter itu menjawab” Maaf Baba, Saya sedang terburu-buru ini, tapi sabar Baba, Saya beri kau -obat merah- ya, coba kau obati sendiri luka kau, nanti saya akan balik lagi kesini”. kemudian pergilah dokter itu. Si Baba menggerutu dalam hati.
Setelah sekian lama, datang lagi seorang lewat di atas lubang itu, ternyata beliau Pak Haji di daerah itu. Si Baba berteriak meminta pertolongan ke Pak Haji. Pak Haji itu menjawab” Maaf Baba, Saya sedang terburu-buru ini, tapi sabar Baba, Saya beri kau buku doa-doa ya, coba kau baca sendiri doa supaya cepat keluar dari kesulitan, nanti saya akan balik lagi kesini”. kemudian pergilah Pak Haji. Si Baba kembali menggerutu dalam hati.
Tiba-tiba lewat Si Dudu. Si Baba berteriak meminta pertolongan kepada si Dudu. Kemudian si Dudu terjun ke dalam lubang itu. Si Baba kaget, kemudian bertanya; “Hai Dudu kau ini bodoh sekali, masa kau ikut masuk lubang ini, terus bagaimana kita dapat keluar dari lubang ini?”, dengan tersenyum si Dudu menjawab:”Tidak teman, saya dulu pernah jatuh di lubang ini dan saya tahu bagaimana keluar dari lubang ini.” “Alhamdulliah,… terima kasih teman” kata si Baba.
Kisah ini biasanya saya berikan kepada mahasiswa saya, waktu kuliah pertemuan pertama, ketika saya berikan form berupa biodata yang harus mereka isi, dan mereka bertanya: “Kenapa sih Pak harus pakai mengisi biodata segala?”
Semoga Bapak selalu dalam karunia Sehat, Ikhlas dan anak anak yang sholeh dari Allah SWT, Amien.
Wassalamualaikum.
Oleh: ris yuwono yn on Mei 25, 2007
at 4:31 am
Mas Ris,
Terimakasih kiriman cerita menariknya. Itulah cara setiap orang untuk membantu sesama ternyata begitu beragamnya. Sangat situasional. Namun tujuannya mulia. Disinilah kita diminta bersabar dan pandai-pandai bersyukur karena masih ada orang lain yang mau membantu kita. Disamping itu juga si Baba seharusnya mencoba dahulu dan tabah untuk cari jalan keluar dari masalahnya. Baru minta bantuan.
Salam
SM
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Mei 25, 2007
at 10:31 pm
Assalamu’alaikum ……
salam kenal dari saya
teman ?
……adalah sesuatu yang membuat hari-hari kita lebih bermakna ……….
always …….
Oleh: aisalwa on Mei 27, 2007
at 12:35 pm
Waalaikum salam ww
Terimakasih aisalwa,
Alhamdulillah saya nambah satu teman lagi.Semoga hidup kita semakin bermakna.
Salam
SM
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Mei 27, 2007
at 5:13 pm
Asw.Pa…Salam kenal dari saya ….Subahnallah ceritanya sungguh berhikmah..Semoga diberikan keberkahan …
Oleh: uchan on Mei 29, 2007
at 2:29 am
Waalaikumsalam ww,
Terimakasih uchan, atas komen dan doanya. Salam kenal juga. Semoga anda pun terus berkarya dan berkah.
Salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Mei 29, 2007
at 6:52 am
Assalamu’alaikum pak Syafri,
Salam kenal dari saya, dan saya juga senang dapat menambah teman.
Saya sudah baca-baca baik profl maupun tulisan Bapak.
Selamat berkarya pak
Wassalamu’alaikum wr. wb.,
Oleh: bdautika on Juni 4, 2007
at 1:04 am
Waalaikumsalam ww,
Ananda bdautika; saya bersyukur bercampur bangga punya generasi remaja yang aktif mensyiarkan kebajikan. Saya baru saja membaca pesan-pesan religius lewat blog ananda.Terus bersyiar karena ridha Allah.Sukses ya.Amin
Salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 4, 2007
at 2:28 am
salam kenal
Saya mau tanya apasih tujuan hidup ?
saya benar benar bingung harus bagaimana
Oleh: marcel on Juni 4, 2007
at 8:39 am
Salam kenal juga,bung Marcel. Hemat saya, tujuan hidup adalah meraih cinta Allah. “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (Ali ‘Imran:31)
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 4, 2007
at 12:20 pm
Saya juga membutuhkan teman…
Tanpa teman dunia seolah menjadi terasing.. Salam kenal Bung!! eh Pak!! Atau apa ajalah!!
Kita temenan ya…? Boleh ?
Oleh: Suluh on Juni 5, 2007
at 3:43 am
Bung Suluh,
Senang hati berkenalan dengan Anda.Saya baru saja buka blog anda yang isinya bagus-bagus.Sukses selalu.
Salam
Oleh: Sjafri Mangkuprawira on Juni 5, 2007
at 6:29 am
assalamualaikum pak….
salam kenal sebelumnya.
Awalnya saya mencari referensi untuk skripsi saya, tapi ternyata menarik untuk membaca tulisan2 lainnya.
Alhamdulillah ternyata bukan hanya saya yang merasa bahwa teman itu adalah kebutuhan.
Saat ini sudah 7 tahun lepas dari masa SMU dan sampai saat ini juga pertemanan semasa SMU itu masih tetap kita jalani bahkan saat diingat-ingat kembali bahwa teman-teman semasa SMU itu adalah juga teman-teman semasa SMP dan bahkan ada yang dari SD.
Mengingat dan mengenang kejadian semasa dulu sangat menyenangkan. Bahkan saat sekarang melihat semua teman telah berhasil meraih mimpinya masing-masing, merupakan kebanggan tersendiri.
Boleh tambah satu teman lagi pak??
Oleh: kayumi on November 11, 2008
at 9:08 am
waalaikum salam ww kayumi……salam kenal juga……benar pertemanan adalah semacam aset yang tak ternilai harganya……boleh saja yumi kita berteman…dengan senang hati…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 11, 2008
at 10:50 am