Suatu ketika saya mengikuti apel Hari Pendidikan Nasional di kampus IPB Darmaga Bogor. Ada butir-butir sambutan Mendiknas yang disampaikan rektor yaitu tentang Rencana Strategis (renstra) Pendidikan Nasional. Renstra itu bertumpu pada tiga pilar utama yaitu peningkatan dan penguatan akses pendidikan, peningkatan relevansi dan daya saing mutu pendidikan, serta peningkatan tata kelola dan citra publik pengelola pendidikan. Intinya adalah bagaimana Indonesia harus mampu tampil sebagai suatu negara yang mampu berhasil dakam mencerdaskan bangsanya lewat pendidikan bermutu.

Tekad itu bukannya tanpa alasan. Data menunjukkan sumberdaya manusia Indonesia yang masih tertinggal kualitasnya. Dalam skala global dapat dilihat dari daya saing ekonomi, pendidikan dan indeks pembangunan manusia.

International Institute for Management Development (2001), suatu organisasi internasional yang bermarkas di Kota Lausanne, Swiss, tentang peringkat daya saing ekonomi sejumlah negara. Dari sebanyak 49 negara, ternyata Indonesia berada pada posisi paling rendah; yaitu peringkat ke-49. Negara-negara tetangga seperti Australia, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Korea Selatan memiliki peringkat di atas Indonesia. Artinya daya saing ekonomi kita memang paling lemah di antara negara-negara dunia pada umumnya, termasuk negara-negara tetangga.

Hal ini diduga terkait dengan kemampuan sumberdaya manusianya. Derajad daya saing usaha Indonesia makin melorot. Menurut hasil survei International Institute for Management Development, Indonesia pada tahun 2005 terpuruk pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada tiga indikator besar yang menyebabkannya. Pertama adalah faktor ekonomi makro, seperti ekspektasi resesi dan kondisi surplus atau defisitnya suatu negara yang masih memprihatinkan. Tingkat pertumbuhan ekonomi relatif masih lambat, tingkat penyerapan tenaga kerja masih rendah, investasi berjalan lambat dan kemiskinan masih tinggi. Kedua, institusi publik dan kebijakan yang diambil dalam melayani kebutuhan masyarakat masih jauh dari optimum. Masyarakat masih dihadapkan pada kesulitan memperoleh pelayanan maksimum. Ketiga, adalah teknologi yang digunakan dalam proses produksi masih belum menghasilkan produk-produk yang mampu bersaing di pasar global.

Sementara dalam hal pendidikan juga demikian. StudiPolitical and Economical Risk Consultancy (2001), menunjukan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Paling buncit. Dalam hal ini Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina, lagi-lagi berada di atas kita. Kondisi demikian diperkuat dengan data dari laporan UNDP, United Nations Development Programme, dalam “Human Development Report 2003″ tentang kualitas pembangunan manusia. Dari 174 negara, Indonesia berada pada peringkat ke-112. Sementara Singapuramencapai peringkat ke-28, Brunei Darussalam ke-31, Malaysia ke-58, Thailand ke-74, dan Filipina ke-85.

Pada skala mikro secara kasat mata kita dapat melihat betapa jumlah dan kualitas fasilitas gedung, laboratorium, anggaran,kesejahteraan guru dan dosen yang masih banyak belum memenuhi standar pembelajaran. Memang biang penyebabnya adalah anggaran yang sangat terbatas. Sementara pendidikan nasional sebesar 20 % dari APBN akan dilakukan secara bertahap sampai tahun 2009. Kita berharap lewat tiga pilar utama itu proses pembelajaran akan semakin optimum.

About these ads