Anak bangsa lagi-lagi ngantre. Kali ini bukan untuk beli bahan bakar minyak atau memperoleh bantuan langsung tunai (BLT) tetapi untuk menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Jutaan anak bangsa berharap diterima sebagai CPNS. Mereka ada yang baru melamar dan ada juga yang sudah menjadi tenaga honorer sampai sepuluh tahun lebih. Namun jangan terlalu banyak berharap karena peluang diterima sangatlah kecil. Sebenarnya bukanlah hanya masalah peluang yang membuat banyak CPNS kecewa. Ada beberapa tipe kekecewaan yang muncul.
Pertama, mereka yang sudah tercantum namanya sebagai CPNS yang lolos tetapi ternyata direvisi dan akhirnya tidak diterima. Kedua, mereka yang merasa sudah mengabdi lama, sepuluh tahun lebih, ternyata tidak diberikan prioritas untuk diterima. Ketiga, adanya mereka yang memperkirakan terjadinya permainan KKN dalam penerimaan CPNS.
Beragam bentuk kekecewaan ditumpahkan. Kebanyakan dalam bentuk protes sampai ada yang pingsan karena kelelahan fisik dan mental. Apapun alasannya, ada yang masih perlu dipertanyakan. Pertama kepada pemerintah di tingkat pusat sampai daerah; mengapa menjalankan suatu sistem yang sebenarnya sudah standar tetapi masih saja ada penyimpangan. Apakah semata-mata karena faktor teknis ataukah kelalaian manusia atau manipulasi?
Kemudian kepada bangsa; mengapa tidak mampu mensosialisasikan bahwa PNS sebenarnya bukan cuma satu-satunya pilihan menjadi pegawai? sebagai dambaan anak bangsa? Bukankah menjadi wirausaha juga menjadi pilihan strategis? Wow, idealnya! Pertanyaannya apakah selama ini kurikulum pendidikan tertentu sudah mengarahkan khalayak belajar dapat menjadi wirausaha handal? Apakah ada insentif untuk membangun dan mengembangkan kewirausahaan di bumi Republik ini? Bagaimana kebijakan moneter dan fiskal untuk pengembangan investasi, terutama di sektor ril? Bagaimana lembaga keuangan-perbankan sebagai unsur pendukungnya? Bagaimana birokrasi perizinannya? Bagaimana dengan kesiapan sumberdaya mananusia berjiwa wirausahanya?
Nah saya perkirakan semuanya belum mampu mendorong anak bangsa ini secara maksimum untuk terjun ke dunia wirausaha yang sebenarnya menjanjikan. Disamping itu tampaknya kebanyakan orang sudah terinternalisasi bahwa menjadi PNS lebih menjanjikan. Jiwanya sudah terbangun sejak di dalam keluarga. Menjadi PNS tak ada risiko uang yang perlu ditanggung kalau bangsa ini bangkrut. Masa depan lebih terjamin karena ada uang pensiun.
Belum lagi sebagian besar anak bangsa masih mengganggap posisi PNS sebagai simbol status-kedudukan sosial. Demikian impiannya. Wah…apa benar? Tiada seorangpun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu (Ash-Shaafaat; 164). (29.03.06)













Ya… kebanyakan orang-orang yang mau jadi PNS itu cuma mau cari aman. Biar hidupnya tenang katanya. Padahal ketenangan tak hanya diperoleh dari hanya menjadi PNS… (ada-ada saja..)
Bahkan saya punya banyak kawan, sedari kecil sudah diarahkan untuk jadi PNS, karena orang-orang tuanya juga PNS, katanya sih begitu.
Oleh: mathematicse on Juli 10, 2007
at 5:06 am
Tiba-tiba saja saya ingin menceritakan hal ini, suatu kejadian (sudah lama sekali) yang membuat saya geram dalam hati. Mudah-mudahan pas dengan rubrik ini.
saya mengikuti khutbah sholat jum’at, temanya tentang bagaimana mendidik anak kita sehingga mereka menjadi lebih baik dari kita.
Ada suatu pernyataan khotib yang menyampaikan level-level pencapaian anak yang melebihi pencapaian orang tua dalam kehidupan. Suatu ketika beliau mengatakan kira-kira begini (barangkali kalimatnya tidak tepat betul, tapi mudah2an esensinya sampai) :
…”kalau sekarang kita hanya seorang GURU SD, maka (dengan intonasi yang agak tinggi)kita harus berusaha agar anak kita jadi DOSEN..”
Deg, saya menangkap kalimat ini adalah bahwa guru SD lebih rendah dari dosen, atau dosen lebih baik dari guru SD. Prinsipnya dosen itu LEBIH KEREN dari guru SD.
Jadi, ini seolah-olah mengajak kita untuk “kasta-kastaan” dalam memandang sebuah profesi. Bagi saya, guru SD dan DOSEN tidak bisa dibandingkan seperti itu. Kompetensi yang dituntut dari seorang guru sd dan dosen itu sangat unik dan berbeda.
Mungkin memang maksud beliau tidak seperti itu, tapi kata-kata diatas menurut saya sangat tidak bijaksana untuk dilemparkan di mimbar itu.
Akan lebih bijaksana jika kata-katanya disampaikan lebih berhati-hati, misalnya seperti ini:
…”kalo sekarang bapaknya jadi guru SD, dan jika anak kita bercita2 (mempunyai visi) untuk menjadi guru SD,maka kita harus MENDIDIK dia supaya menjadi guru SD yang lebih BERINTEGRITAS, lebih BERKUALITAS, lebih punya VISI kedepan…”
Masalah yang jauh lebih besar dari kata-kata diatas adalah jika itu keluar dari pemikiran yang memandang bahwa profesi guru sd lebih rendah dari dosen.
wallahu a’lam
Oleh: Dicky Firmansyah on Juli 10, 2007
at 4:20 pm
Assalamualaikum Pak Sjafri
Wah, syukur alhamdulillah saya menemukan blog Bapak. Saya juga baru lulus dari IPB, th 2005 dari jurusan lanskap.
Saya akhirnya menemukan suatu pendapat lain yang sepihak dengan saya. krn selama ini saya selalu di doktrin oleh keluarga saya khususnya ibu saya ttg perbedaan profesi PNS dengan wirausaha, dimana seorang yang berprofesi sbg PNS selalu lebih di banggakan, dipandang lebih berdrajat krn dilihat dari pendidikan sesorang. Mungkin krn keluarga saya rata2 menjadi pegawai negri dgn watak jawa yang sangat kolot.
bagaimana ya pak cara mengubah persepsi spt itu?
mohon saran dari bapak.
Trimakasih
Wassalamualaikum
Oleh: Annie on Juli 30, 2007
at 4:55 am
nanda annie,
memang tidak gampang merubah persepsi apalagi kalau sudah menjadi suatu ideologi bahwa PNS adalah segalanya…perubahan makan waktu…salah satunya adalah berikan contoh-contoh dari keluarga terdekat yang memiliki karir dalam non-pns yang telah berhasil…contoh lainnya adalah ketika permintaan lembaga-lembaga pemerintah menurun karena sudah terlalu banyaknya pns maka pasti setiap lulusan perguruan tinggi mau tidak mau akan mencari karir dalam non-pns…para mahasiswa bimbingan saya cenderung seperti itu..lalu tanamkan pemikiran kepada orang tua kita mana yang lebih bergengsi apakah lebih baik menganggur (lowongan di pns nol) atau bekerja di non-pns?
salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 1, 2007
at 8:37 am
benar dicky,
kehormatan profesi guru tidak diukur dari strata dan pada level pendidikan mana dia mengajar…namun pada mutu proses pendidikan,pengajaran,dan pengabdiannya…kita-kita tidak mungkin sekarang ini sebagai sarjana kalau guru-guru sd kita tidak bermutu…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 1, 2007
at 8:42 am
Assalamualaikum Wr Wb……
Siang pak…..Setelah kuliah Bapak, saya langsung ke internet karena saya penasaran dgn blog Bp..Stlh saya baca..Wow..Temanya sederhana, kejadian sehari-hari, namun Bapak dalap mengkemasnya dengan apik. Terus terang saya inigin belajar dari Bapak…Menanggapi tulisan Bapak mengenai PNS, saya sangat setuju bahwa jiwa PNS sudah terbangun dari keluarga..Mengapa? Karena menurut kebanyakan orangtua dengan menjadi PNS hidup kita akan terjamin sampai hari tua..karena ada dana pensiun, betul tidak pak? Selain tiu, persepsi yang berkembang dimasyarakat dengan menjadi PNS merupakan pencapaian yang tinggi karena masuk PNS sulit. Tapi pak sering saya lihat di Departemen – departemen jika sudah jam 14.00 banyak kursi kosong, sedangkan diswasta masih menumpuk pekerjaan.. dan saya jadi mempertanyakan etos kerja PNS sendir…Bagaimana menurut Bp?
Terimakasih.
Oleh: Wiwin Ika on September 26, 2007
at 6:36 am
menjadi PNS merupakan impian para pencari kerja karena bagaimana tdk enak gaji cukup, dapat dana kesra, tuntutan pekerjaan ringan, bisa nyambi2, waktu kerja bisa diatur, dan pelayanan tdk customer orientation tdk ada yang menegur, dan dibagian tertentu bisa dapat tips tambahan, meskipun tdk semuanya yang begitu tapi apa mungkin ini efek dari 32 tahun orde baru ya Pa’ Prof, tapi pengalaman empirik saya membuktikan waktu berurusan dengan PNS ya tdk jauh dari uraian yg diatas tadi.
maaf ya kalau ada yang tidak berkenan (mungkin ini hanya pengalaman saya saja). saya pribadi kalau saya berkesempatan manjadi PNS apa mampu yah menahan gelombang seperti tadi.
Oleh: Ridwan on September 26, 2007
at 9:08 am
bung ridwan terimakasih atas uraiannya….. perilaku PNS tak luput dari telaahan positif dan negatifnya….. dan itu merupakan rangkaian panjang dari sistem kebijakan publik……PNS maupun nonPNS hanyalah suatu pilihan…..kembali kepada nurani dan persepsi pencari kerja…..yang mana yang mereka pilih….
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 26, 2007
at 8:22 pm
terimakasih ika;nah disinilah memang sosialisai keluarga mejadi unsur utama membentuk persepsi seperti itu……di sisi lain memang perilaku PNS atau birokrat selalu dilihat dari sisi buruknya…..misalnya datang ke kantor lambat tapi pulang cepat,fungsi kontrol rendah, budaya kerja lemah dsb…….tapi anehnya tetap saja keluarga menilai PNS adalah dambaannya…perlu studi khusus agaknya……
salam
Oleh: sjafri mangkuprawira on September 26, 2007
at 8:28 pm
dunia PNS bisa berubah menjadi dunia emas sekarang, tapi apakah selamanya orang-orang PNS selalu dalam dunia keemasan,tentu tidak kan!!!Sebenarnya peluang untukmenjadi sukses dalam dunia PNS atau wirausaha, maka yang lebih besar itu dengan wirausaha.Dengan wirausaha seseorang lebih kreatif,tidak selalu berpatok pada peraturan, lebih terkontrol,dan intinya akan jauh dari kejahatan2 yang biasanya banyak dilakukan oleh kebanyakan orang – orang yang berada di pemerintahan,baik itu dari hal yang sepele seprti korup waktu, kerja tidak teratur,dan masih banyak untuk disebutkan.
Oleh: HEFI on November 19, 2007
at 9:56 am
ya bung hefi;seharusnya siapapun dia sebagai karyawan apakah pns maupun swasta tetap harus kreatif dan inovatif…..memang cenderung benar kalau di birokrasi publik seorang karyawan terkesan kaku pada aturan-aturan dinas yang standar…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 19, 2007
at 3:33 pm
wah pertama kali tau ada blog ini. bagus sekali pak untuk sharing ilmu disini. saya suka postingannya,meski belum sempat diajar bapak, saya coba nyolong duluan ilmunya ya pak..Menurut saya memang di PNS kondisi aturan dinas masih bersifat standar dan itulah birokrasi. Justru menurut saya PNS memang lebih didambakan faktor utamanya ya karena safetynya, ada uang pensiunnya, sedikit resikonya, lancar penghasilannya(meski ga besar-besar amat sich). Dan satu hal yang menurut saya pribadi membedakan adalah kondisi inovasi dan kreasi yang akan dialami oleh PNS or bukan PNS. Seorang yang bekerja di swasta umumnya tertuntut untuk melakukan pengembangan diri dan responsif terhadap zaman, dan karena hal itulah yang membuat mereka tetap terus survive dalam bidangnya, sedangkan PNS umumnya karena terjebak dalam struktur baku yang masih standar ya hasilnya susah di upgrade, meski dalam program tiap lembaga PNS ada yang namanya diklat, tapi kadang masih kurang bermanfaat atau dimanfaatkan dalam proses peningkatan kualitas karyawan. Proses kreatif dan responsif terhadap perubahan justru akan lebih mengena saat seseorang berada di swasta, dan tanpa sadar penegmbangan diri mereka terjadi secara alamiah.
Mungkin perlu dipikirkan tehnik baru penggajian terhadap PNS sehingga pengukuran kinerja produktivitas benar-benar dilakuakn berdasar skala kemampuan, tidak seperti sekarang yang masih model lama,sehingga ukuran produktivitas menjadi jelas, bagaimana pendapat bapak ??
Oleh: rozi on Juni 18, 2008
at 8:36 am
benar bung rozi….sebaiknya dicari formula yang kita sebut sebagai indeks kinerja pegawai…..komponennya dimulai dari yang sifatnya umum termasuk kepribadian sampai kinerja yang disesuaikan dengan jenis dan beban pekerjaan…lalu masing-masing komponen diberi skor dan bobot……agar obyektif maka diperlu data catatan kinerja yang diperoleh lewat evaluasi diri atau ada catatan dari atasan……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juni 18, 2008
at 11:05 am
ya pak saya setuju sekali, indeks kinerja pegawai tampaknya sudah harus dipikirkan sebagai alternatif bagi pengukuran kinerja pegawai bersangkutan, selama ini setahu saya di PNS ada yang namanya buku produksi yang mencatat beberapa aktivitas si pekerja bersangkutan tapi tampaknya kurang efektif karena seperti sekedar acara seremonial saja , bukan mencatat kemajuan kreativitas dari si pekerja sendiri. Sekarang kalau ada reformasi birokrasi di beberapa departemen pemerintahan menurut bapak sendiri bagaimana? karena saya baca di koran sudah menggunakan semacam Standard Operating Prosedure yang dibakukan…
Oleh: rozi on Juni 19, 2008
at 9:07 am
bung rozi….reformasi birokrasi belum menyentuh hal yang paling mendasar yakni bagaimana meningkatkan kesejahteraan pegawai…..mustahil melakukan reformasi birokrasi yang begitu luas akan berhasil tanpa memperhatikan aspek tersebut sebagai prioritas utama……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juni 19, 2008
at 4:35 pm
menurut bapak bagus didahulukan yang mana pak, pembenahan sistem atau peningkatan kesejahteraaan pegawai ??
Oleh: rozi on Juni 20, 2008
at 1:34 am
bung rozi…..peningkatan kesejahteraan pegawai itu sendiri merupakan sub-sistem reformasi kepegawaian…..jadi pendekatannya holistik……
Oleh: sjafri mangkuprawira on Juni 20, 2008
at 12:15 pm
Saya setuju dengan 3 tipe kekecewaan yang bapak paparkan. Terutama tipe ke 3, awalnya saya tidak ingin bersuudzon. Tetapi saya telah membuktikannya sendiri, meski masih membingungkan apa yang saya alami. Pada saat tahap wawancara saya melihat absen ada 15 orang yang hadir. Padahal pada pengumuman hanya tercantum 12 orang yang berhak mengikuti wawancara. Maka timbullah hal negatif dalam pikiran saya. Dari mana asalnya jumlah yang bertambah itu? Bagaimana nasib bangsa Indonesia jika kini KKN telah menjadi budaya atau bukan hal yang tabu lagi? Kesempatan untuk pelamar lain telah tergeser. Bagaimana kualitas SDM yang seperti itu?
Oleh: Maria Fitriah on November 28, 2008
at 4:43 pm
Saya setuju, lebih baik memulai berwirausaha daripada mengharapkan PNS yang harapannya bisa 10.000 : 1. Memulai dari yang kecil, mulai sekarang dan mulai dari diri sendiri. Dengan wirausaha keuntungannya kita tidak harus menunggu gajian yang hanya sebulan sekali seperti PNS tapi bisa setiap hari….
Sulitnya menjadi PNS, bukan berarti membuat kita menjadi berburuk sangka dengan PNS. Karena tidak semua PNS itu jelek, mungkin hanya karena segelintir orang PNS yang kurang baik tapi digeneralisir menjadi semua PNS kurang baik. Mari buka mata dan hati kita, disekeliling kita masih banyak PNS yang hidupnya bersahaja…Dengan berbaik sangka, membuat kita sehat jiwa dan raga bukan?
Perkara ada PNS yang korupsi, tidak profesional dsb, mari kita percayakan kepada KPK
Oleh: linda on November 28, 2008
at 11:22 pm
betul mbak maria….kkn sepertinya tidak habis-habisnya…..semua berpulang pada mental atau sdm para pelakunya…..walau reformasi sudah berlangsung 10 tahun……prihatin..
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 29, 2008
at 7:51 pm
ya mbak linda…..banyak jalan menuju roma……banyak cara untuk bisa hidup,asalkan tekun,fokus,dan ikhlas…..salah satunya kewirausahaan…..tinggal bagaimana mensosialisasikan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda plus dukungan pembiayaan mikro dari pemerintah atau dunia perbankan….sependapat tidak semua pns berkarakter buruk…….
Oleh: sjafri mangkuprawira on November 29, 2008
at 7:55 pm
Assalamualaikum Prof,
Baru sempat baca tulisan ini, yang dibuat 1 1/2 tahun lalu. Dan sangat menarik.
Saya sendiri salah satu orang yang mengundurkan diri dari status CPNS yang pernah saya raih. Dulu mungkin karena saya pikir PNS sangat lah tidak challenging dan penuh KKN. Waktu itu saya benar-benar tidak dapat menahan gejolak idealisme untuk bisa hidup lebih bermakna untuk diri sendiri. Menghindari lingkungan kehidupan yang waktu itu saya pikir tidak merangsang saya untuk bisa lebih produktif dan kompetitif.
Belakangan setelah hampir 10 tahun makan gaji sebagai buruh. Saya juga tidak tahan melihat berbagai perlakuan yang sering tidak adil terhadap kalangan pekerja. Akhirnya saya memutuskan berusaha untuk bisa jadi self employee dan berwiraswata, dengan harapan ke depan bisa membuka kesempatan kerja, untuk lebih banyak lagi orang lain yang memang butuh pekerjaan. Serta ada juga sedikit harapan , bisa mewariskan usaha, atau paling tidak mental sebagai entrepreneur bagi anak-anak saya.
Begitu banyak orang yang mempertanyakan keputusan saya, dan tidak sedikit yang mencemooh. Ada yang mengatakan bahwa saya tidak bersyukur dengan keluarnya saya dari karir sebagai buruh, yang selama ini berjalan dengan cukup mulus dengan pencapaian prestasi yang baik.
Setelah menjajaki berbagai kemungkinan selama setahun ini, sebenarnya kehidupan seorang self employee selain banyak tantangannya tapi juga sangat banyak enaknya. Minimal saya merasakan indepedensi dalam berinovasi dan membuat keputusan.
Masalah jaminan hari tua, social and health insurance-pun sebenarnya bisa di manage dengan cara ikut program asuransi, tabungan hari tua dan terus melakukan investasi secara seimbang.
Lepas dari hal di atas, hidup memang pilihan kita, selama kita mau berusaha, konsisten dan bertawakal. PNS atau tidak hanya masalah cara kita menetapkan label diri kita sendiri. Dengan segala konsekuensi yang ada.
Wassalam,
Avis
NB. Terima kasih banyak atas ijin pemuatan tulisantulisan Bapak di portal Indosdm.com. Sejauh ini, setiap saya pantau, sangat banyak yang membaca. Suatu saat akan saya kirimkan catatan statistik (views) dari masing2 artikel tersebut. Mudah-mudahan menjadi catatan amal sholeh bagi Pak Sjafri dan menjadi ilmu bermafaat bagi pembaca kami. Amin
Oleh: Avis on Desember 4, 2008
at 6:14 pm
bung avis…..kisah yang sangat menarik tentang pengalaman pribadi anda…..seharusnya seperti itu…..kita tidak semestinya berada pada wilayah kemampanan tanpa spirit untuk berubah……terimakasih uraian anda memerkaya artikel ini…..btw sykurlah kalau artikel saya di indosdm banyak peminatnya…..
Oleh: sjafri mangkuprawira on Desember 5, 2008
at 11:15 pm
Ya saya juga seorang wiraswasta. Saya punya lembaga pendidikan kursus (www.djgeniuz.blogspot.com). Walau penghasilan naik turun tapi saya bangga. Banyak teman yang menyayangkan keputusan saya untuk tidak menjadi PNS. Padahal suami, keluarga dan semua teman saya PNS, paling tidak honorer di instansi pemerintah. Tapi tidak semua kebahagian bisa dibeli dengan menjadi PNS. Seorang wiraswasta dapat menentukan hari dan jam kerjanya sendiri.
Oleh: DJ GENIUZ on Agustus 13, 2009
at 3:53 am
betul geniuz….dimanapun kita berkarya…kita bisa menemukan jatidiri kita yg sebenarnya…itulah kebahagiaan…
Oleh: sjafri mangkuprawira on Agustus 14, 2009
at 10:06 pm