Oleh: sjafri mangkuprawira | November 20, 2009

PENGUATAN MODAL SOSIAL

 

         Modal sosial positif adalah syarat utama bagi keberhasilan pengembangan masyarakat. Semakin kuat nilai-nilai sistem sosial atau jaringan sosial semakin meningkatkan volume dan mutu proses dan hasil pengembangan masyarakat. Ukuran outputnya adalah tercapainya kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Dalam hal ini modal sosial sangat berperan positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini tidak lepas dari adanya kepercayaan sebagai modal utama antara lain dalam membangun sifat-sifat atau nilai-nilai kohesi sosial, kebersamaan, toleransi, empati. Fungsi-fungsi kontrol dalam pengembangan masyarakat relatif longgar karena adanya saling percaya sesama individu.

         Dalam kenyataannya modal sosial tidaklah statis. Tidak mudah dihindari perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi cenderung dapat menimbulkan deviasi modal sosial. Timbul perkembangan persepsi tiap individu terhadap hal-hal baru; apakah sebagai ancaman atau justru memerkuat modal sosial yang ada. Selain itu ketika masyarakat sudah semakin memiliki hubungan dengan pihak luar maka dibutuhkan fungsi kendali sosial terhadap setiap norma dan kebudayaan luar yang masuk. Pertanyaannya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh entitas sosial agar dapat membentengi tantangan bahkan ancaman luar.

         Melemahnya modal sosial positif bisa jadi karena diintervensi oleh modal sosial negatif. Kalau masyarakat tidak mampu mengatasinya maka bakal terjadi penggerusan modal social positif yang ada; misalnya gangguan terhadap interkasi sosial, saling percaya yang menurun,pelanggaran norma sosial, krisis kepemimpinan dan akhirnya kerenggangan hubungan social. Meningkatnya semangat nilai-nilai budaya konsumerisme dan individualistik, misalnya, akan mudah menimbulkan konflik dan perilaku menyimpang. Perilaku yang tidak jarang ditemukan, misalnya primodialisme dan sentiment kedaerahan dan kesukuan bisa jadi dapat menimbulkan kerusuhan sosial. Begitupula yang menyangkut sindikat dan mafia kegiatan illegal dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Hal itu semakin parah karena lemahnya fungsi kontrol sosial dan intensitas komunikasi yang rendah. Lama kelamaan terjadi krisis kepercayaan terhadap institusi sosial lokal.

         Untuk memerkuat modal sosial positif dan memerkecil terjadinya modal sosial negatif maka beberapa pendekatan bisa dikembangkan yang meliputi beberapa hal yakni:

        1) Pendidikan agama sebagai sumber pengembangan nilai-nilai luhur untuk membangun sifat kebersamaan dan saling percaya sesama manusia. Termasuk untuk meningkatkan kesadaran lingkungan lestari. Namun demikian pendekatannya tidak sebatas perkembangan kognitif namun seharusnya pada pengembangan sikap atau afektif.

        2) Pendidikan sosialisasi keluarga. Sebagai sistem sosial terkecil seharusnya keluarga menjadi basis utama dalam menanamkan nilai moral kehidupan. Disini peran kepala keluarga menjadi sangat sentral dalam member teladan berperilaku yang baik.

       3) Pemeliharaan dan pengembangan institusi sosial. Proses pembelajaran keahlian bekerjasama, norma hubungan timbal balik, dan tindakan kolektif perlu terus dipelihara dan dikembangkan. Selain itu institusi diharapkan mampu mengembangkan solidaritas sosial dalam menghadapi situasi apapun.

       4) Upaya sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang ada dalam modal sosial khususnya yang menyangkut pendidikan karakter perlu ditingkatkan mulai dari kalangan generasi dini baik lewat pendidikan formal maupun informal seperti pelatihan kerjasama tim.

        5) Pengembangan komunikasi informasi lewat beragam media dan saluran seni budaya diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai luhur dari kearifan local, kerjasama,saling percaya, dan tanggung jawab.

        6) Nilai-nilai dari luar tidak harus dihambat masuk sejauh memiliki hal-hal yang dianggap positif dan bahkan memerkuat modal sosial yang sudah ada. Asalkan dilakukan penyaringan secara selektif oleh institusi sosial dan khalayak luas.

        Unsur terpenting dalam capaian keberhasilan pengembangan masyarakat disamping unsur modal alam, teknologi, kelembagaan, modal manusia adalah unsur modal sosial seperti saling percaya sesama anggota masyarakat, empati sosial, kohesi sosial, kepedulian sosial, dan kerjasama kolektif.. Dalam prakteknya, pengembangan masyarakat membutuhkan pendamping yang berfungsi sebagai.analis masalah, pembimbing kelompok, pelatih, inovator, dan penghubung. Prinsip bekerjanya adalah (1) kerja kelompok, (2) keberlanjutan, (3) keswadayaan, (4) kesatuan khalayak sasaran, (5) penumbuhan saling percaya, dan (6) prinsip pembelajaran bersinambung.

Disarikan dari makalah penulis STRATEGI PENINGKATAN KAPASITAS MODAL SOSIAL DAN KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA PENDAMPING PENGEMBANGAN MASYARAKAT, Seminar Nasional Forkapi,Bogor 19 November 2009.


 

 

Oleh: sjafri mangkuprawira | November 18, 2009

SDM DAN KESEJAHTERAAN PETANI

 

        Hingga kini pemerintah belum sepenuhnya menemukan upaya strategis dan hasil maksimum dalam mengangkat bangsa kita dari keterpurukan ekonomi. Fenomena kasat mata antara lain terlihat dari tingkat pengangguran kerja dan kemiskinan. Jumlah mereka yang menganggur pada tahun 2007 mencapai sekitar 12 juta orang, sementara jumlah mereka yang tergolong miskin mencapai sekitar 25 juta orang. Keadaan demikian sangat terkait dengan masalah sumberdaya manusia (SDM). Apakah SDM sebagai penyebab dan apakah sebagai akibat.

       Kondisi SDM jelas ada pengaruhnya dengan daya saing bangsa. Menurut “The 2006 Global Economic Forum on Global Competitiveness Index (GCI)”, kondisi Indonesia berada pada tingkat yang lebih rendah ketimbang beberapa negara Asean lainnya seperti Singapura (peringkat 7), Malaysia (21), dan Thailand (28).; namun berada lebih tinggi dibanding Vietnam (68) dan Filipina (71). Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh daya saing SDM. Dalam laporan ”World Competitiveness Yearbook”, kondisi daya saing SDM Indonesia di tingkat regional berada pada posisi yang lebih rendah yakni peringkat 50 dibanding India (43), Malaysia (26), Korea Selatan (24) dan Singapura (5).

         Kondisi SDM yang rendah sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Secara agregat kondisi ini mempengaruhi produktivitas nasional. Hal demikian juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang sementara ini (setelah krisis finansial global) hanya mencapai 4,2 % yang berada dibawah target sebesar 4,5 %. Pada gilirannya daya saing bangsa juga akan rendah. Dengan kata lain akumulasi berbagai faktor, kebijakan, dan kelembagaan yang performanya rendah akan mempengaruhi produktivitas nasional. Bagaimana dengan sdm pertanian? Sebanyak 87 persen pelaku sektor pertanian adalah lulusan SD dan bahkan tidak tamat SD. Sementara mereka yang sarjana hanya 3,5 persen. Bisa dibayangkan bagaimana rendahnya produktifitas SDM pertanian. Tentu saja akibatnya kontribusi sektor ini semakin tertinggal dibanding sektor lain khususnya industri.

         Meskipun kontribusi sektor pertanian terhadap pendapatan nasional sudah semakin digeser oleh sektor industri, yaitu sekitar 17%, namun lebih dari 45% penduduk masih mencari nafkah di sektor pertanian. Beberapa fakta mengindikasikan semakin pentingnya peran sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja. Selama krisis dan beberapa tahun terakhir terjadi penurunan nilai tukar petani dan penurunan upah buruh di pedesaan. Hal ini menunjukkan adanya pertambahan angkatan kerja di sektor pertanian. Hal ini disebabkan tingginya pertambahan angkatan kerja Indonesia yaitu 1,2% atau sekitar 2 juta orang setiap tahun. Pengurangan angka pengangguran, baik formal maupun informal sangat relevan dengan optimalisasi peran sektor pertanian.

         Beberapa tantangan di masa depan masih bakal dihadapi yakni globalisasi ekonomi, kemiskinan, pengangguran, dan degradasi lingkungan. Di sisi lain ada kecenderungan generasi muda yang tidak lagi berminat di bidang pertanian. Faktor pokok yang menyebabkannya adalah sektor pertanian dianggap tidak memiliki insentif ekonomi ketimbangan di sektor lain. Untuk menjawab ini, dibutuhkan revitalisasi pertanian secara lebih terfokus yang didukung kualitas sumberdaya manusia pertanian. Disamping melalui pengembangan SDM berbasis kompetensi maka diperlukan penguatan kelembagaan pertanian misalnya lembaga keuangan, pemasaran, penyuluhan, penelitian dan pengembangan yang saling bersinergis.

         Setiap program pengembangan sektor pertanian khususnya yang berkait dengan program pengembanagn SDM pertanian harus merupakan bagian integral dari peningkatan kesejahteraan petani (PPK). Pengembangan model pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan berbasis kompetensi dan agribisnis diharapkan mampu meningkatkan mutu SDM pertanian. Pada gilirannya mampu meningkatkan produktifitas, mutu dan harga hasil pertanian yang kompetitif. Tujuannya adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani yang didukung dengan pemberdayaan, peningkatan akses terhadap sumberdaya usaha pertanian, pengembangan kelembagaan dan perlindungan terhadap petani.

Dimuat dalam majalah Bangkit Tani Edisi November 2009

Oleh: sjafri mangkuprawira | November 15, 2009

PENTINGNYA MODAL SOSIAL DALAM PERUSAHAAN

 

         Untuk menjalankan bisnisnya, perusahaan pasti menggunakan beragam modal. Bisa berbentuk modal finansial, teknologi, modal manusia (sumberdaya manusia), dan modal sumberdaya alam. Dalam prakteknya modal-modal di atas tidak menjamin perusahaan akan meraih keuntungan maksimum. Dengan kata lain setiap investasi belum tentu akan menghasilkan return on investment yang diharapkan. Karena itu masih dibutuhkan bentuk modal lainnya yakni modal sosial. Bentuk modal ini bukan saja berfungsi sebagai aset perusahaan tetapi juga sebagai instrumen sekaligus tujuan dalam pengembangan perusahaan. Dengan demikian agar perusahaan bisa berkembang maka pertanyaannya bagaimana memertahankan dan meningkatkan modal sosial agar semua bentuk modal lainnya memiliki manfaat maksimum.

        Modal sosial dalam perusahaan dicirikan oleh adanya interaksi sosial timbal balik diantara karyawan dan manajemen dan antarsesama keduanya. Bentuk interaksi itu didasarkan pada adanya rasa percaya sesama yang mengakar dalam suatu budaya organisasi dan etika sosial. Karena ada rasa percaya maka timbul suatu entitas karyawan (manajemen dan non-manajemen) yang  memiliki kebersamaan tentang nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, dan pentingnya kerja keras-cerdas. Karyawan menunjukkan kesediaan individunya untuk mengutamakan keputusan entitas perusahaan. Pertanyaannya apakah setiap perusahaan otomatis memiliki cirri-ciri modal sosial seperti itu?

        Terbentuknya modal sosial sangat bergantung pada mutu sumberdaya manusia para karyawannya. Dalam prakteknya bisa jadi mutu mereka berbeda-beda. Baik dilihat dari segi budaya, latar belakang sosial ekonomi keluarga, pendidikan, ketrampilan, kecerdasan (intelektual,emosional, dan spiritual), kepemimpinan, dan pengalaman kerja. Karena modal sosial berperan sebagai unsur perekat para karyawan dalam melaksanakan visi dan misi organisasi untuk mencapai tujuan organisasi maka dibutuhkan sumberdaya manusia yang bermutu.

        Mutu SDM sangat penting untuk mengembangkan modal sosial perusahaan. Setiap karyawan harus memahami bahwa modal sosial merupakan suatu komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya, dan bertanggungjawab. Selain itu dengan semakin meningkatnya mutu SDM diharapkan akan semakin terbentuknya rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggungjawab akan kemajuan bersama. Karena itu setiap perusahaan seharusnya terdorong untuk membangun dirinya sebagai organisasi belajar. Yakni suatu organisasi di mana para anggota dari suatu organisasi secara terus menerus memperluas kemampuannya untuk berkeinginan belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Dalam hal ini pemimpin perusahaan memegang peranan penting dalam mengembangkan modal sosial di perusahaannya.

       Kepemimpinan trasformasional, demokratis, dan kepemimpinan partisipatif di kalangan manajemen khususnya manajemen puncak cenderung akan mampu menstimulus para karyawan dalam memercepat struktur modal sosial dalam bentuk pengembangan visi bersama. Selain itu kepemimpinan seperti itu berpengaruh pada terbentuknya saling percaya di kalangan karyawan. Dengan demikian hubungan harmonis di antara karyawan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun tim kerja yang efektif. Pada gilirannya modal manusia yang bermutu dan modal sosial yang utuh akan mampu meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan.

Oleh: sjafri mangkuprawira | November 13, 2009

PENTINGNYA PERUBAHAN STRATEJIK : INVESTASI

 

       Perubahan stratejik adalah salah satu kegiatan yang secara langsung berkaitan dengan tujuan organisasi bisnis. Ini merupakan tanggung jawab manajemen senior yang bertugas merencanakan sumberdaya, mengkomunikasikannya dan secara langsung mengelola proses. Misalnya bagaimana perusahaan harus melaksanakan perubahan fungsinya yaitu dengan berorientasi lebih pada usaha komersial. Disini pihak manajemen harus mengimplementasikan perubahan strategik dengan fokus ganda. Yang pertama memaksimumkan pendapatannya dari usaha komersialnya dan kedua aktif mengembangkan tanggung jawab sosial perusahaan

        Faktor pendorong terjadinya perubahan strategik baik di sektor swasta maupun pemerintah (publik) adalah pertimbangan ekonomi. Di sektor swasta, pemegang saham akan membeli saham dengan pertimbangan berapa pendapatan yang akan diperolehnya. Sementara para pelanggan (pasar) ,dengan daya belinya, mereka memilih untuk membeli sesuatu. Secara efek ganda diharapkan upaya ini akan memengaruhi peningkatan kebutuhan sumberdaya manusia karena turunan dari permintaan pasar akan produknya.

       Tugas manajemen adalah menstimuli kondisi agar setiap produk yang dihasilkan memiliki syarat-syarat sesuai dengan kebutuhan/kepuasan pelanggan. Untuk itu mutu sumberdaya manusia karyawan benar-benar harus disiapkan dengan baik. Selain itu juga mampu mengendalikan biaya produksi untuk menjamin agar harapan para pemegang saham terpenuhi. Tidak dapat dielakkan bahwa perubahan pasti terjadi di berbagai segi kehidupan ekonomi. Produk apapun dan bagaimanapun tingkat efisiensinya, suatu ketika teknologi produksi yang dipakai akan ketinggalan zaman. Kemudian diganti dengan generasi terbaru teknologi yang semakin efisien. Namun demikian semua itu memerlukan investasi baru yang modalnya diperoleh dari pemegang saham.

        Pasar, tidak masalah bagaimana kondisinya, akan berubah sejalan dengan perubahan selera pelanggan. Misalnya, air mineral alami yang dahulu tidak termasuk katagori barang ekonomi dan tidak dipasarkan, sudah beberapa tahun lalu diproduksikan secara masal dan sudah mendunia. Namun tidak dapat dielakkan biaya produksi tersebut di negara-negara maju sangat tinggi. Tidak mudah menekan biaya. Karena itu kebanyakan perusahaan di negara-negara tersebut tidak menginvestasikan di negaranya tetapi di luar. Pertimbangannya karena biaya tenaga kerja dan biaya operasinya lebih murah.

Oleh: sjafri mangkuprawira | November 11, 2009

MENGKOMUNIKASIKAN TUGAS

 

        Apa saja yang mungkin terjadi ketika karyawan menjalankan tugas dari manajer? Bisa berhasil dan bisa tidak. Ketidakberhasilan menjalankan tugas bisa jadi sebagai akibat timbulnya deviasi tugas karena distorsi informasi dari manajer. Karena itu sebelum pendelegasian dilakukan, para karyawan hendaknya memahami apa saja yang didelegasikan dan apa alasannya. Manajer harus mengetahui dengan tepat batasan kekuasaan sehingga individu dapat menjabarkan gambaran tugas, konteksnya dan tempatnya dimana. Klarifikasikanlah bagaimana manajer akan menyelia tugas dan menilai kinerja karyawan. Siap-siaplah untuk menyesuaikan gaya kepemimpinan manajer. Suatu kepercayaan diri yang meningkat mungkin saja dapat menjadi kekuatan seseorang untuk mampu mengungkapkan emosinya karena keterlibatan manajer yang berlebihan.

        Agar pendelegasian tugas berjalan sesuai harapan maka manajer perlu mengkomunikasikan berbagai segi tugas yang mudah dimengerti dan dapat dilaksanakan kepada karyawan yang akan menerima tugas dari manajer. Untuk itu beberapa penjelasan dari manajer yang perlu dikomunikasikan kepada karyawan:

(1) Jelaskanlah secara umum jenis tugas yang akan didelegasikan dan apa alasannya termasuk tujuannya,

(2) Jelaskanlah tentang tugas secara rinci dan batasan-batasan wewenang dan tanggung jawab yang manajer berikan. Manajer juga perlu menjelaskan apa yang akan manajer lakukan selama tugas itu dilaksanakan karyawan; apakah manajer akan selalu bersedia untuk menjadi tempat bertanya, memberikan dukungan moril, memberi peluang ikut pelatihan, dan dukungan sumberdaya.

(3) Jelaskanlah kepada semua karyawan mengapa manajer mendelegasikan tugas pada karyawan tertentu untuk mencegah timbulnya keheranan, kecurigaan dan kecemburuan, mencegah koordinasi yang buruk, dan meminta orang lain membantunya.

(4) Jelaskanlah standar proses dan keberhasilan tugas yang diberikan termasuk batas waktu serta kriteria dan ukuran tujuan yang ingin dicapai.

        Semakin paham karyawan akan isi tugas seperti tujuan,hasil yang diharapkan dan prosedur pelaksanaannya akan semakin berhasil karyawan memenuhi permintaan dan harapan manajernya. Suasana bathin yang menyenangkan akan ikut memerlancar pelaksanaan tugas. Karena itu hubungan antara manajer dan karyawan sebaiknya dibina sedemikian rupa agar ketika manajer membutuhkan karyawan untuk suatu pelaksanaan tugas akan berhasil dengan baik.

Oleh: sjafri mangkuprawira | November 9, 2009

TUAN: TOLOOONG

 

      Terkait dengan hinggar bingarnya fenomena korupsi akhir-akhir ini, saya mengutip artikel humor yang dimuat di situs Ketawa.Com (modifikasi dari Teguh Setya Nugraha, 28 Sep. 2006). Inti pembelajaran dari tulisan itu, proses penegakan hukum khususnya dalam hal pemberantasan korupsi bukanlah barang mudah. Perlu keberanian dan ketegasan dari aparatnya secara taat asas. Namun dalam kenyataan, hasilnya masih belum memuaskan. Berikut ceritanya.

        Seorang pengusaha yang menghabiskan akhir pekannya dengan memancing di sebuah danau, menemukan sebuah botol yang terapung dan tertutup rapi yang segera dihampiri dan diambil oleh sang pengusaha. Penasaran…, si pengusaha membuka tutup botol, lalu tiba-tiba dari dalam botol keluar asap yang selanjutnya menebal dan menjadi Jin raksasa yang mengambang di depan si pengusaha. "Terimakasih tuan; Tuan telah membebaskan saya, untuk ini tuan disilakan meminta tiga permintaan, saya akan mengabulkannya" kata Jin, seperti format biasa tanda terimakasih Jin yang dibebaskan oleh manusia.

        Setelah kagetnya reda, si pengusaha itu terdiam sejenak lalu dia berkata, "Baiklah Jin, saya ingin tahun ini ada tiga perubahan besar terjadi di negeri saya Indonesia ini: pertama, saya ingin nilai tukar rupiah di negeri saya ini kembali menjadi Rp. 8.500 per 1 dollar US; kedua, saya mau semua uang hasil korupsi baik oleh swasta ataupun pejabat pemerintah dikembalikan kepada rakyat dan semua pelakunya dipenjarakan. Ketiga, saya ingin hukum benar-benar bisa ditegakkan di negeri saya ini."

       Sang Jin berpikir sejenak kemudian, menggeleng-gelengkan kepala. Pelan-pelan jasadnya kembali menjadi asap lalu berkumpul masuk kedalam botol itu kembali. Dari dalam botol si Jin berseru:
                          "Tuan, tolooong botolnya ditutup kembali…!!!!!."

Oleh: sjafri mangkuprawira | November 8, 2009

BENCI DAN KERUSUHAN

 

         Siapa diantara kita tak pernah punya rasa benci kepada orang lain? Sifat benci atau tak suka pada orang lain sepertinya merupakan fenomena alami. Itu dapat terjadi pada siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Yang beda cuma derajatnya. Beberapa contoh bentuk penyebab kebencian individu pada orang lain antara lain karena ditipu atau dihianati, benci karena diputus cinta, benci karena dimarahi, benci karena diberlakukan tidak adil, benci kepada musuh bebuyutan, benci karena tidak diberi perhatian, benci karena teraniaya, dsb. Kalau sifat benci dibiarkan bahkan dipelihara, maka secara potensial akan lahir sifat dendam. Kecuali… benci tapi rindu.

        Kerusuhan antaragolongan masyarakat, sebagai konflik sosial, yang terjadi selama ini sering diawali oleh suatu kebencian. Mulanya timbul dari kebencian individual,misalnya bentrokan individu dan perebutan aset lahan. Lalu berkembang menjadi solidaritas kebencian dan akhirnya menuai kebencian massal. Kebencian massal terhadap penguasa yang tidak adil; terhadap pengusaha yang zolim; terhadap kelompok suku, ras bahkan agama tertentu; dan terhadap pengikut golongan atau partai politik tertentu,dan bahkan hanya karena pertengkaran antarapemuda beda kampung adalah beberapa contoh yang acap menimbulkan kerusahan yang parah.

        Kita tentunya tidak ingin bangsa Indonesia tergolong sebagai masyarakat pembenci sekaligus perusuh sosial. Walau jargon indahnya hidup rukun dan damai sudah kerap diungkapkan tetapi kebencian massal masih sering juga terjadi. Dalam hal ini agama sangat mengingatkan tiap manusia yang beriman untuk tidak bersifat benci. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu (adh-Dhuhaa; 3). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (al-Kautsar; 3). Allah menambahkan dengan firmannya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujuraat; 10).

        Salman r.a mengabarkan, Rasulullah bersabda: Apabila orang berpura-pura saling mencintai, padahal sesungguhnya saling membenci dengan hati dan saling memutuskan hubungan kasih sayang, maka Allah mengutuk mereka (HR.Thabrani). Kalau ada yang benci kepada orangtua pun Rasulullah memberi peringatan keras dengan sabdanya: Janganlah kamu membenci bapakmu. Siapa yang membenci bapaknya maka dia kafir (HR.Muslim). Ya Allah ampunilah kami atas kekhilafan kepada orangtua kami. Sayangilah orangtua kami sebagaimana halnya mereka selalu menyayangi kami. Amin.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori